Ibu dalam Larikan Puisi

Berharap kepulangan si buah hati (anak semata wayang) ketika ia pergi untuk segala maksud dan cita, adalah nafiri doa-doa yang selalu hangat di pelupuk mata. Hati ibu selalu bergetar untuk kepulangan yang melegakan. Bahagia. Tak kurang suatu apa. /hari-hari yang mengubur catatan kepulangan, nak/

Pergi untuk belajar, mencari kerja, atau pun pergi untuk sekadar refreshing atau rekreasi. Doa dan harapan ibu hanya satu; pulang dengan membawa hati yang indah, bahagia, dan berwajah riang. Tentu, akan semakin lengkap (dalam doa ibu) jika anak ibu pergi untuk urusan akhirat (berjihad, mencari jodoh, belajar/mengajar, dll.). Tercatat di relung hati ibu yang paling dalam. Dalam suatu wadah atau tempat yang tidak pernah berbekas kekecewaan. Cahaya yang tetap memancar walaupun badai datang menerjang. Dada ibu adalah bumi sekaligus langit yang melingkupi cinta anaknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

/bila matahari telah mampu menghangatkan,/ Mungkinkah? Apakah mungkin ada sesuatu yang lain yang /melebihi pelukan ibu dari seberang/? Tentu saja jawabannya adalah “tidak ada!” Tidak akan ada satu pun yang dapat melebihi pelukan kasih ibu. Bahkan, matahari sekalipun tidak akan mampu memberikan kehangatan yang sepadan dengan cinta ibu.

Namun, sebagai ibu yang bijak, tentu saja anaknya harus merasakan kehangatan dunia lain. Agar tercipta komparasi, ada pembanding antara cinta ibu dan cinta-cinta yang lain. Itulah kehidupan yang sesungguhnya. Ada realitas rasa dari rona kehidupan yang harus dicecar oleh orang yang ingin merasakan nikmat hidup yang sebenarnya. Bukan “anak mama” yang selalu hidup bergantung tanpa punya pendirian kehidupan yang penuh dengan nuansa hidup.

/jarak dan waktu memang sungguh menghakimi/menelan rumah kita ke dalam sepi/ Sebuah kebenaran yang hakiki, bahwa jarak telah membuat kebijakan untuk menyelami hidup yang kokoh, pantang menyerah. Perpisahan antara ibu dan anak diproyeksikan sebagai jembatan untuk meneguhkan jalan hidup yang tidak gampang. Rumah yang sepi, lepas dari celoteh “comel” yang menggemaskan adalah bagian romantika jalan kehidupan. Tidak mengapa kalian (nak) pergi untuk mewujudkan segala cita cinta yang akan dibawa pulang pada saatnya nanti. Pergi untuk kembali, dan kembali untuk memberikan arti dan harapan-harapan hidup yang hakiki.

/nak, bila tiba waktumu pulang/ setelah pergi untuk membangun hakikat diri, setelah mendapatkan harapan dan mimpi-mimpi, setelah cita-cita itu telah diraih dan siap untuk membangun negeri. Waktunya pulang telah tiba untuk memberikan yang terbaik bagi kaumnya. Berdakwah di kampung halaman, sebagaimana mereka harapkan nilai kebaikan untuk menjabarkan inti sari kehidupan, kebenaran hakiki untuk bekal kehidupan yang abadi.

Tapi, /jangan lupa mencuci usia di antara laut dan langit yang terpaut/. Sebab tanpa kesucian jiwa, tanpa kesabaran dan keteguhan hati untuk berbagi, berdakwah dalam kebenaran, maka hakikat “kesucian” itu masih belum sempurna. Maka, jangan lupa untuk bersuci, semakin usia itu bertambah, seharusnya jiwa harus semakin bersih.

Ada banyak tempat untuk membersihkan diri. Di antara langit dan bumi, adalah tempat yang pas untuk bersuci. Namun, yang sebaik-baik tempat adalah lingkungan yang akan membawa diri pada sari kebenaran. Hamparan bumi yang menumbuhkan benih kebaikan, dan lengkungan langit yang memberi selimut takwa. Maka, di mana pun bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Damai untuk menempa diri menjadi lebih bijak.

/tinggalkan maut dan kemelut/ Mati dan persoalan hidup adalah sebuah keniscayaan. Mati pasti menemui kita. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lepas dari janji ketiadaan. Pada saatnya, pada waktunya, setiap manusia akan menemui ajal. Allah berfirman, “Kullu nafsin dzaiqatul maut,” (Setiap yang bernapas akan menemui kematian).

Maka untuk apa dirisaukan? Maka seharusnya kita harus bersiap dan berjaga-jaga untuk menghadapi mati. Karena di akhirat nanti yang akan membantu kita hanyalah amal kebaikan saat kita hidup di dunia. Mati tidak perlu ditakuti. Tinggalkan saja ia menemui kita, selagi kita dalam kewaspadaan, kematian adalah hamparan kesenangan.

Begitu pula dengan persoalan hidup (kemelut?). Kita tidak perlu berkecil hati dalam menghadapinya. Karena problematika kehidupan akan membawa kita pada keteguhan jiwa. Nurani yang siap “berperang” melawan persoalan-persoalan yang akan kita hadapi.

Harapan seorang ibu hanyalah kemaslahatan dan kebahagiaan dari buah hatinya. Tidak lebih. Ya, tidak lebih dari itu. Maka, /pulanglah membawa rindu/, yaitu kerinduan yang membahagiakan, bukan kerinduan yang membawa kabar duka. Luka dan nestapa harus telah ditanggalkan untuk berganti dengan kesempurnaan jumpa.

Tinggalkan Balasan