Masih sebagai harapan dari CINTA ibu, sebagai doa yang selalu dipanjatkan setiap waktu, agar anaknya pulang membawa berkah. Ilmu yang bermanfaat. Membawa kebajikan untuk disemai bersama, sebagai ungkapan, “/beserta matahari di kepalamu/.” Sinar harapan untuk membangun kampung halaman. Cahaya pengetahuan untuk menyinari dunia kegelapan (kebodohan).
/di sini aku tugur membeku/. Ibu menunggu dengan CINTA. Menunggu bersama RINDU. Menunggu dengan kesabaran, doa, dan kesetiaan. Tanpa batas, terus mengalunkan harapan-harapan, dan menunaikan janji suci untuk tetap mendampingi hingga akhir nanti. Tugur, tetap ada untuk si buah hati, hingga ajal merampas segalanya (membeku). Sebuah kesetiaan kasih yang tidak akan pernah pupus dimakan waktu.

Itulah ibu, yang kata D Zawawi Imron adaah “bidadari yang berselendang bianglala.” Kasih dan cintanya tidak akan pernah pupus hingga akhir usia. Seorang pujangga mengatakan, “Ibu, di dermaga asa ini, aku merindu dengan segenap rindu. Aku menyinta dengan doa-doa!”
***
MUNAJAT CINTA IBU
Getar jiwa di palung senjamu
menaut laskar CINTA, sebait
senyum mengulur derai gelak
pada reranting tawa, surga membalut pelangi
Ibu, lelahmu mahligai kasih
di relung dada samudra
jelma sabda ratu pandeta, suluh
irama muzaik, mengurai seribu purnama
Hatimu, langit berhias gemintang
tiada resah, gerai sejuta warna
tentang nakalku, air mata darah
siluet mendung, di desah alpa
Engkau
Ibu menyuluh kesiap biruku
tentang hitam, kelabu, menyaru
sesalku abadi, di relung cintamu
Ibu
Munajat doa sewajah purnama!
Madura, 01042016
Wallahu A’lam bis Shawab!
