Peristiwa tersebut menjadi refleksi perjuangan perempuan dalam mempertahankan kehidupan manusia. Siti Hajar sebagai role model jihadnya seorang perempuan. Ia bahkan tidak berjuang untuk dirinya sendiri, melainkan memperjuangkan kehidupan bagi anaknya yang masih kecil. Kini, hasil jerih payahnya berwujud mata air zamzam telah menjadi sumber kehidupan sepanjang masa dan mampu mengobati segala macam penyakit.
Dari konteks cerita tersebut pula merefleksikan bahwa perempuan adalah wasilah kehidupan dan keberkahan. Dikisahkan Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya berdua di Makkah untuk menjalankan perintah Allah. Siti Hajar kemudian mengemban beban ganda membesarkan Ismail seorang diri tanpa kehadiran sang suami.

Dalam website Mubadalah.id KH. Husein Muhammad menuturkan, Ali Syari’ati, pemikir kontemporer menggambarkan Siti Hajar sebagai ibu yang bertanggung jawab, pengembara. Dalam kegelisahannya kehilangan seorang pelindung, ia tetap penuh cinta. Meskipun terasing dari kaumnya, menyendiri, tiada rumah, dan tak berdaya, ia menjadi perempuan optimis dengan penuh harapan. Cinta dan harapan tersebut telah mengetuk pintu langit dan menjadikannya teladan bagi seluruh muslim khususnya muslimah di muka bumi ini.
