Hal tersebut diwujudkan dalam kegigihannya menolak godaan setan agar tidak menyerahkan Ismail untuk dikorbankan. Siti Hajar melempar batu kepada setan. Peristiwa tersebut menjadi rukun haji romyul jumroh di hari tasyrik. Siti Hajar mengabaikan rayuan tersebut sebab ia menyakini pertolongan dan kasih sayang Allah sangat luas. Karena, dia telah berulang kali merasakan pahit dan manisnya cobaan.
Syaikh Umar mengisahkan dalam buku berjudul Kisah-Kisah Shahih dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bahwa alasan berpindahnya Hajar dari Palestina ke Mekkah ialah kecemburuan Siti Sarah atas kelahiran Ismail. Rasulullah SAW menyampaikan pula dalam perjalanannya ke Mekkah, Hajar menyeret bajunya di belakang untuk menghapus jejak kakinya agar tidak diketahui oleh Siti Sarah. Kelembutan Siti Hajar sebagai perempuan rela pergi mengasingkan diri untuk menjaga perasaan Siti Sarah yang sangat ia hormati.

Keistimewaan Idul Adha tidak hanya berkelindan pada peran Ibrahim dan Ismail. Namun, juga peran perempuan Siti Hajar yang pengorbanannya seringkali terlupakan. Perjuangan yang melahirkan peradaban dan menghancurkan stigma-stigma buruk terkait perempuan. Idul Adha menjadi momentum mentadabburi nilai-nilai moral lahiriah dan bathiniah. Tanpa pendamping suami, ia menjadi perempuan tangguh, mandiri merawat Ismail dengan penuh cinta. Tanpa keraguan pula, ia yang menegaskan Ibrahim untuk tetap menjalankan perintah Allah.
