Apakah akan lagi aku
menghabiskan malam di Fasakh?
Dengan ramuan jamu dan
tumbuhan yang membaluriku?
Adakah esok pagi ketika
aku turun ke sumber air Majanna
Akankah aku lihat Shama dan Tafil lagi?
Hal tersebut oleh Dewi Aisyah dilaporkan kepada Rasulullah, dan Nabi menjawab persis seperti dugaannya. “Mereka bicara begitu karena tak sadar, karena suhu badan mereka yang sangat tinggi.”

Apa yang dikatakan oleh sahabat Abu Bakar, Bilal, dan Amir dalam keadaan tidak sadar tersebut terasa sangat puitis. Kalimat yang keluar secara spontan itu ternyata memang cocok dengan keadaan yang sedang mereka alami, dalam artian sudah mewakili perasaan mereka masing-masing. Lalu, seolah-olah dengan itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa bersyair atau membuat puisi sebenarnya tidak membutuhkan akal, hanya butuh jiwa yang tajam merasakan.
Benarkan kesimpulan ini?
*) Tulisan ini saya sarikan dari buku Sirah Ibnu Ishaq Buku Ke-2 karya Muhammad bin Yasar bin Ishaq.
