Hakikat Pendidikan
Bagi Muhammad Abduh, hakikat pendidikan bertujuan mendidik akal dan jiwa serta mengembangkannya, hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari tujuan pendidikan, Abduh nampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk keperibadian Muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intlektualitas dan moralitas.

Menurutnya, pendidikan bukan hanya pengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Pendidikan seyogyanya dapat memerhatikan segi material dan spritual sekaligus. Pandangan ini merupakan kritiknya terhadap situasi dan aktivitas pendidikan di Mesir pada waktu itu, di mana pendidikan hanya menekankan pengembangan salah satu aspek saja dengan mengabaikan aspek lainnya.
Muhammad Abduh memang sosok yang dikenal seorang yang peduli sekali dengan dunia pendidikan. Ia sangat senang ketika melihat pelajar yang giat menuntut ilmu, teguh memegang saripati dan jiwa agama, serta tidak melepaskan adat-istiadat mereka yang luhur. Selain itu, Abduh juga memperhatikan sekali perbaikan pendidikan di Al-Azhar saat itu, demikian juga bahasa Arab dan pendidikan pada umumnya. Baginya, bahasa Arab perlu dihidupkan dan untuk itu metodenya perlu diperbaiki, dalam hal ini kaitannya dengan metode pendidikan. Sistem menghafal di luar kepala perlu diganti dengan sistem penguasaan dan penghayatan materi yang dipelajari.
Selain itu, hendaknya peserta didik melakukan studi secara langsung. Sistem madrasah yang lama akan mengeluarkan ulama-ulama tanpa memiliki pengetahuan modern dan sekolah-sekolah pemerintah yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Untuk itu, Muhammad Abduh menyarankan menambah pengetahuan agama pada sekolah-sekolah umum, sehingga jurang pemisahnya yang mungkin timbul antara dua lembaga pendidikan itu akan dapat ditanggulangi. Untuk mengimbangi antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum, saat Abduh menjabat sebagai anggota Dewan Pendidikan di Al-Azhar, dia memasukkan kurikulum ilmu-ilmu yang sebelumnya diabaikan seperti etika, sejarah, geografi, matematika, aljabar, dan ilmu ukur walaupun banyak perlawanan terhadap pemakaian kurikulum tersebut.
Selanjutnya, dia perpanjang masa belajar dan memperpendek masa libur. Juga dibuat aturan yang melarang pembacaan hasyiah (komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar tentang teks pelajaran) kepada mahasiswa untuk empat tahun pertama. Kepada mereka, diberikan pokok-pokok mata pelajaran dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagai akibat dari perubahan ini, jumlah mahasiswa yang maju untuk diuji semakin bertambah. Sungguhpun usahanya untuk mengubah Al-Azhar menjadi serupa dengan universitas Eropa gagal, dia berhasil dalam memasukkan beberapa mata pelajaran umum seperti matematika, aljabar, ilmu ukur, dan ilmu bumi ke dalam kurikulum Al Azhar.
