Di era sekarang, mungkin ilmu yang sangat bermanfaat ini tidak teramat populer atau digandrungi. Sebab, untuk mencari sesuatu tidaklah sulit seperti zaman dahulu, karena semua informasi atau pengetahuan ada di genggaman dengan adanya smartphone. Karena itulah kini ilmu firasat tidak banyak digunakan. Selain itu, karena untuk menggunakan ilmu tersebut perlu belajar secara intens dan tekun dan harus melakukan eksperimen berkali-kali untuk menemukan hipotesa yang objektif lagi konkret.
Namun, berabad-abad yang lampau, sebelum peradaban Barat maju, Imam Fakhruddin ar-Razi telah mendahului zamannya dengan menulis sebuah buku (kitab turats) tentang membaca karakter manusia yang disebut fisiognomi itu. Kitab ar-Razi ini diberi judul Al-Firasah: Daliluka ilaa Ma’rifah Akhlaq an-Naas wa Thabai’ihim wa Ka’annahum Kitabun Maftuh. Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kitab Firasat: Ilmu Membaca Sifat dan Karakter Orang dari Bentuk Tubuhnya, yang diterbitkan oleh Penerbit Turos pada 2019 dengan ketebalan 208 halaman.

Beberapa abad kemudian, barulah ilmuwan-ilmuwan Barat mulai menggeluti dan menulis ilmu firasat atau fisiognomi seperti yang dolakukan Michael Scot (1175- 1232 M), Gerolamo Cardano(1501-1576 M), dan Giambattista Della Porta (1535–1615 M).
Ilmu firasat yang dirintis ar-Razi ini diperlukan guna memberikan pemahaman kepada seluruh umat manusia untuk lebih berhati-hati dalam mencari teman. Sebab karakter atau watak setiap orang tidak bisa ditebak.
