Imah dan Pesta Pernikahannya yang Kedua

“Biar aku azankan.” Heru tersenyum penuh haru.

“Sudah Bang, Bang Jarwo tadi yang menggantikan Abang.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mana dia sekarang? Kurang ajar sekali!” Mata yang tadi pagi menatap galak Ucok kembali di tampilkan pada istrinya. Tanpa perlu menunggu jawaban, Heru bergegas keluar, membawa pisau kecil yang ia simpan di balik gulungan sarungnya.

Bagaikan Hiroshima dan Nagasaki yang di bom oleh Amerika serikat, luluh lantak dan penuh kemalangan. Suasana hati Heru terbakar api cemburu, semuanya seakan hitam pekat, tak peduli anak pertama yang dinanti selama sepuluh tahun telah lahir.

“Dasar bangsat!” Ujung pisau Heru manyentuh kemeja putih pria dengan perawakan Melayu itu, seketika darah merembes dari bahunya.

“Heru, maksud kau apa?” tangannya menahan sakit di bahu kirinya. Seketika orang-orang melihat tanpa berusaha melerai. Ada yang takut, tak peduli, bahkan ada yang menjadikannya sebuah tontonan dengan dalih sebagai ganti dari suntuknya mencium bau obat.

“Kau memang tak pernah rela Imah bersamaku, kenapa? Kau dendam karena aku mengambilnya darimu, hah?!” sorot mata Heru menyalak tajam.

“Heh, jaga mulut kau. Aku tidak pernah dendam meskipun kau menarik paksa Imah dari rumahnya, mengurung dan memaksanya untuk hidup dengan kau, karena terlilit utang. Tidak sedikitpun aku ingin merebutnya, sebab aku masih sadar diri dan masih punya rasa hormat.” Darah yang ditampung oleh jari-jarinya menetes ke lantai puskesmas desa yang sudah berwarna cokelat hampir menyerupai tanah di sana.

“Halah bajingan kau! Brengsek!” Sekali lagi tangannya teracung, siap menancapkan kembali pisaunya lebih dalam di bahu Jarwo.

Banyak bibir melongo, tanpa perlu melerai; ini tontonan yang menarik.

“Berhenti!” Suara melengking dari lorong paling pojok, tertatih membawa infus menghampiri dua laki-laki yang dari dulu mencintainya.

Tinggalkan Balasan