Imajinasi Saintek pada Anak-anak Muslim

Apa yang ditampilkan oleh Nussa dan Rara akan sangat terasa dekat dengan imajinasi pedagogis yang terjadi sekolah-sekolah Islam di kawasan urban. Ekspektasi pada ranking, penguasaan sains-teknologi, dan tutur sikap yang ultra-islami banyak ditekankan oleh guru dan orang tua hingga membentuk etos tersendiri dalam diri anak.

Ekspektasi-ekspektasi tadi adalah pantulan dari semangat modernitas, di mana kecemburuan tak sadar pada kemajuan saintek Barat dan ekonomi neoliberal memahat imajinasi muslim pada gairah teknokratis dan islamisasi ilmu pengetahuan. Anak yang saleh, rajin salat, hafal Qur’an, dan jago ilmu eksakta mungkin adalah konstruk imajinasi dominan orang tua, guru, ataupun visi sekolah muslim dalam membentuk anak-anak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada fase lanjutan tumbuh kembang anak, yakni masa kuliah dan lulus, ekspektasi tambahannya berupa bekerja pada sektor swasta, birokrasi, ataupun bisnis.

Dalam lintasan tumbuh kembang dari kecil sampai dewasa, mengapa tidak populer ekspektasi berupa anak saleh, rajin salat, hafal Qur’an, dan jago ilmu sosial atau filsafat? Ketika ilmuan-ilmuan muslim dikutip untuk menginspirasi anak-anak, yang ditampilkan adalah capaian-capaian sainteknya, bukan capaian sosial filosofisnya.

Ibnu Sina dan Al Khawarizmi mungkin adalah dua nama terfavorit. Capaian eksakta mereka sangat memikat untuk dijadikan kebanggan simbolik. Ibnu Khaldun dan Ibnu Rusyd, mungkin adalah dua nama yang paling berisiko.

Orang mungkin dapat mengatakan dengan bangga pada anak-anak bahwa Ibnu Khaldun adalah bapak sosiologi pertama, namun akan gugup seribu bahasa bila harus menjelaskan signifikansinya seperti apa. Cerita soal Ibnu Rusyd juga umumnya berhenti sebatas sosok teolog dan pemikir ulung, tanpa mengisahkan cakupan, corak pemikiran, beserta kontribusinya pada kemanusiaan seperti apa.

Tetapi, Ibnu Rusyd akan menjadi sosok inspiratif yang aneh bagi anak-anak di sekolah SD Islam. Mengapa seorang guru perlu menyebut Ibnu Rusyd sebagai teladan? Bila toh Ibnu Rusyd terpengaruh oleh tradisi Hellenistik Yunani dan sekaligus menjadi bapak filsafat sekuler Islam.

Di sinilah titik masalah mengapa sebagian orang tua, guru, dan sekolah Islam tidak mengharapkan sosok anak yang saleh, rajin salat, hafal Qur’an, tapi jago ilmu sosial/filsafat. Dan menaruh ekspektasi lebih pada anak yang jago ilmu saintek.

Tinggalkan Balasan