Imajinasi Saintek pada Anak-anak Muslim

Menjadi agamis sekaligus menguasasi ilmu sosial dan filsafat adalah sama halnya menggugat relasi kuasa yang telah mapan. Karakter dasar ilmu sosial dan filsafat adalah evaluasi terhadap diri (baik itu ‘diri’ sebagai individu ataupun sebagai masyarakat). Ketika karakter ini berpadu dengan penguasaan wawasan agama, maka akan ada serangkaian evaluasi religi yang derajat tajam-tumpulnya tak tertebak oleh orang tua, guru, ataupun komunitas asal si anak.

Karakter anak seperti ini sering mendapat label pembawa kesesatan. Oleh karena itu, membuat kartun dengan sosok anak muslim yang bercita-cita menjadi ilmuan sosial adalah sama halnya menyemai benih pemberontak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bayangkan, misalnya, Anda membuat kartun seperti Nussa Rara. Tokoh utamanya, si bocah muslim yang saleh, bercita-cita ingin jadi sosiolog. Jalan cerita tentu tidak bisa mengabaikan latar keluarga, lingkungan ia tumbuh, dan iklim sekolahnya.

Dalam film Nussa Rara, intrik soal roket mana yang lebih canggih adalah intrik personal antara Nussa dan anak baru dan Tuhan.

Dalam film yang Anda buat, intriknya mustahil personal. Si tokoh utama harus mengalami pergulatan batin soal orang ataupun lingkungan sekitarnya; harus diwarnai oleh pertanyaan-pertanyaan mendasar; dan harus mengandung unsur advokasi, gerakan ataupun gugatan, karena tiga hal ini merupakan ejawantah lanjutan dari karakter dasar ilmu sosial yang evaluatif.

Film Anda, cepat atau lambat, akan memancing reaksi masyarakat. Polemik dari film Anda mungkin akan lebih terjal daripada polemik di islami.co. Tudingan terberat, mungkin Anda akan dicap melakukan propaganda pada anak oleh kalangan yang berseberangan dengan orientasi si tokoh utama.

Mungkinkah mencetak anak yang saleh, rajin salat, hafal Qur’an taoi juga jago ilmu sosial/filsafat, namun yang selalu berpihak dan membagus-baguskan status quo? Sangat mungkin. Tetapi seorang afirmis tulen tidak dapat dikatakan sebagai ‘ilmuan sosial’, melainkan ‘buzzer’ atau ‘cherrypicker’. Karena, karakter mendasar dari ilmu sosial adalah menghendaki adanya debat atau dialektika.

Evaluasi diri adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman dan membutuhkan banyak keberanian. Oleh karena itu, sedikit kalangan yang mencita-citakan atau mengharapkan anak yang saleh, rajin salat, hafal Qur’an sekaligus jago ilmu sosial/filsafat.

Tinggalkan Balasan