Kendati rada terkejut, Imam Syafi’i tersenyum—menyadari orang itu berbuat baik padanya, ternyata ada maunya. Kemudian Imam Syafi’i mengeluarkan kantung uang, membayarnya.
Sebagai orang yang pengasih, sebelum pergi Imam Syafi’i bertanya, apakah ada yang perlu dibayar lagi olehnya.

“Ya,” jawab orang itu masih dengan nada sewot. Lalu ia meminta pada Imam Syafi’i untuk membayar sewa rumah; karena ia telah membuat istirahatnya nyaman, sementara—demi Imam Syafi’i—ia rela tidur di tempat yang tak nyaman.
Bahkan, setelah Imam Syafi’i memberikan sejumlah uang untuk sewa rumah, lagi-lagi ia bertanya sebagaimana pertanyaan tadi.
“Tidak,” jawabnya, “pergilah…”
