Imlekan, Komunitas Tionghoa Mojokerto Ziarah ke Makam Gus Dur

Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMT) Mojokerto melaksanakan ziarah tahunan ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sabtu (7/2/2026) sore.

Sebanyak 28 orang anggota PSMT Mojokerto berangkat langsung dari Mojokerto menuju kompleks Makam Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Jombang, sekitar pukul 15.00 WIB. Ziarah ini telah menjadi agenda rutin setiap tahun menjelang Imlek sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa Gus Dur bagi etnis Tionghoa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rombongan didampingi oleh Koordinator Gusdurian Jombang, Ema Rahmawati, serta perwakilan Gusdurian cabang Mojokerto. Prosesi ziarah berlangsung khidmat dengan doa bersama dan tabur bunga di makam Gus Dur.

Rini Hwang, Ketua Pelaksana Imlek Mojokerto sekaligus perwakilan PSMT Mojokerto, menyampaikan bahwa ziarah ke makam Gus Dur memiliki makna historis yang sangat mendalam bagi masyarakat Tionghoa.

“Etnis Tionghoa tidak bisa dipisahkan dari Gus Dur. Kami tidak mungkin melupakan leluhur kami, dan akan selalu mengenang Gus Dur,” ujarnya.

Menurut Rini, Gus Dur dianggap sebagai sosok bapak leluhur dan pahlawan bagi etnis Tionghoa karena telah mencabut berbagai kebijakan diskriminatif yang membatasi ekspresi agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa di ruang publik.

“Karena jasa Gus Dur, sampai sekarang etnis Tionghoa diakui keberadaannya. Bagi kami, beliau adalah pahlawan kami,” tegasnya.

Ia menambahkan, Gus Dur merupakan contoh tokoh agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan toleransi tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama.

“Beliau adalah sosok yang luar biasa bagi kami. Gus Dur tidak pernah membedakan agamamu apa, rasmu apa. Beliau adalah panutan kami,” ungkap Rini.

Di akhir kegiatan, Rini mengajak seluruh etnis Tionghoa untuk selalu mengingat sejarah dan jasa Gus Dur sebagai bagian penting dari perjalanan kebangsaan Indonesia.

“Kita harus selalu ingat sejarah, mengenang jasa Gus Dur, dan setiap tahun harus ke sini karena beliau adalah pahlawan bagi etnis Tionghoa,” pungkasnya.

Sementara itu, Koordinator Gusdurian Jombang, Ning Emma, menyambut baik kegiatan ziarah lintas budaya tersebut. Ia menilai tradisi ini sebagai simbol kuat persaudaraan dan toleransi di Indonesia.

“Acara seperti ini menurut saya bagus,” ujarnya singkat.

Sebelum kembali ke Mojokerto, rombongan PSMT Mojokerto menyempatkan diri singgah ke warung Kikil Gus Dur di kawasan Mojosongo, yang dikenal sebagai salah satu tempat makan favorit almarhum semasa hidup.

Redaksi: berita ini hasil kerja sama peliputan dengan Tebuireng Online. Pewarta: Albii; Editor: Rara Zarary; Fotografer: Fatih Maulana, Gusdurian.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan