Memang betul ungkapan Bung Karno tempo dulu, yang inti bunyinya, setelah bangsa kita merdeka dan musuh yang jelas itu pergi, kita akan menghadapi musuh dari dalam bangsa kita sendiri. Ungkapan yang Soekarno ditiru dari ungkapan Kanjeng Nabi usai menghadapi perang besar.
Maka, semakin terlihat bahwa cita-cita dalam arti kemerdekaan itu masih jauh dari kenyataan. Rupanya kemerdekaan itu sedang dalam proses, sedang berlangsung. Kita semua masih memperjuangkannya. Kita semua masih berada di atas panggung sejarah yang maju ke depan.

Kemerdekaan ada di ujung waktu yang sedang kita alami ini, tinggal bagaimana kesadaran manusia Indonesia menyikapinya; apakah akan memilih kepedulian kepada sesama atau justru melakukan tindak ketidakadilan terhadap manusia; apakah akan menggunakan hati nuraninya ataukah menggunakan keserakahan untuk memperbesar perutnya.
Menjelang Kemerdekaan Indonesia yang ke-77, lantas bagaimana kita harus mengambil peran? Nampaknya solusinya sudah banyak dipikirkan oleh para Intelektual terdepan kita. Tugas kita harus terus mendukung pemerintah dan para Intelektual yang bermaksud baik dan masih menjalankan laku kebaikan dan kebenaran. Namun jika ada yang melenceng, tentu adalah tanggung jawab kita semua juga sebagai rakyat untuk melancaran kritik secara tepat.
Kritik adalah suatu tradisi yang amat baik guna membangkitkan kesadaran manusia dan kemanusiaan kita, khususnya manusia Indonesia. Dulu seorang wartawan cum sastrawan garda depan bernama Mochtar Lubis pernah menulis buku berjudul Manusia Indonesia (1977) yang berasal dari Pidato Kebudayaannya di TIM (Taman Ismail Marzuki). Buku tersebut berisi kritik terhadap mental orang Indonesia yang kurang begitu pas untuk era yang sudah modern. Sebagai idea tentu saja sangat menarik mempertanyakan ulang bagaimana manusia Indonesia itu hari ini dan ke depan. Walaupun kemudian buku tersebut juga mendapatkan berbagai tanggapan baik positif maupun negatif, namun kritik itu tetap penting agar supaya kita mampu merumuskan keadaan sebagai manusia Indonesia yang berkesadaran pada zaman.
Hal yang sama pernah terjadi pada masa sebelum kemerdekaan, seperti Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an, suatu pertentangan ide-ide tentang kebudayaan seperti apa yang akan menjadi milik kita, Barat ataukah Timur. Para budayawan itu pun mendedahkan perspektif masing-masing. Sutan Takdir yang modern, Sanoesi Pane, yang memegang nilai-nilai ketimuran, dan seterusnya.
Dan setelah kemerdekaan terbitlah Surat Kepercayaan Gelanggang yang terbit 22 Oktober 1950 di Majalah Siasat, yang juga menyuarakan ide untuk dasar sikap dan pijak ke masa yang akan datang. Chairil Anwar, penyair legendaris kita tentu berperan penting atas ide-ide ‘kemerdekaan’ sebagai manusia yang berpikiran terbuka, bebas, dan kreatif. Para sastrawan seperti Asrul Sani dan Rivai Apin turut berperan penting dalam penerbitan Surat Kepercayaan Gelanggang tersebut.
