Indonesia Kita dan (Arti) Kemerdekaan

Kita tentu saja harus tahu bahwa sastra dan kemerdekaan suatu bangsa itu seperti dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Banyak sekali jasa yang telah diberikan para sastrawan, budayawan, pemikir jurnalis atas perjalanan bangsa Indonesia hingga saat ini. Semuanya saling kait mengait tak terpisahkan.

Banyak sekali contoh serupa, misalnya di Hungaria, seorang penyair bernama Athilla Jozsef sangat berjasa untuk bangsanya, bahkan di negaranya dibuatkan patung dan penghargaan khusus kepadanya, macam Chairil Anwar kita itu. Namun sungguh malang, ketika Athilla Jozsef masih hidup, kekuasaan di negaranya tidak pernah peduli alih-alih melakukan represi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di tempat yang lain, Korea, misalnya, penyair besar Yun Dong Ju sangat dihormati hingga sekarang. Dia dianggap berjasa baik kepada kemerdekaan bangsa Korea juga kepada bahasanya. Namun semasa hidup, ia sungguh kesulitan, bahkan ia meninggal di penjara dalam keadaan sakit. Kabarnya menjadi kelinci percobaan oleh tenaga kesehatan di penjara itu.

Indonesia kita dibangun dengan kecerdasaan akan pengetahuan, kepekaan akan pengalaman, semangat terus belajar dan memiliki niat mulia untuk kemslahatan bersama. Tugas semacam itu memang berat dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Kemerdekaan adalah hasil dari kerja sama. Oleh karena itu penting bagi kita untuk saling mendukung dan melontarkan kritik dengan baik sebagaimana telah dicontohkan oleh para budayawan, pemikir, jurnalis, sastrawan di masa lalu.

Hanya dengan berdialektika seperti itu akan merintis sebuah jalan baru bagi kemerdekaan yang bukan hanya konsep melainkan kenyataan. Maka, sebagai siapa kita sekarang adalah penting mengambil peran masing-masing untuk cita-cita luhur kemaslahatan dan kesejahteraan seluruh rakyat. Walaupun ada tantangan di depan dan masih seringnya timbul salah paham, tetapi percakapan akan mengembalikan kehangatan bergaul sebagai warga negara. Mengutip ungkapan Karl Marx, “Tidak ada bangsa yang merdeka, jika jiwa manusianya tidak merdeka.”

Bagaimana membebaskan jiwa, salah satunya dengan melalui ekspresi bicara (perpendapat, berpandangan), menulis (mengkritik, sastra), singkatnya bercakap-cakap. Wassalam.

Tinggalkan Balasan