Di balik kehidupan pesantren, ada banyak sosok yang berperan dalam perkembangan pendidikan, keilmuan, dan kehidupan sosial masyarakat. Sebagian dikenal luas, sementara sebagian lainnya belum banyak mendapat perhatian, meskipun memiliki kontribusi yang berarti. Mengangkat kembali kisah mereka menjadi salah satu cara untuk merawat ingatan tentang dunia pesantren.
Hal tersebut tercermin dalam Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren yang menjadi bagian dari Festival Dunia Santri 2026. Lomba ini memberi ruang bagi para penulis untuk mendokumentasikan kehidupan dan pengabdian tokoh-tokoh pesantren melalui tulisan biografi. Hasil Lomba diumumkan pada Puncak Festival Dunia Santri 2026, Sabtu, 24 Oktober 2026 di Makara Art Center Universitas Indonesia.

Tahun ini, Zaky Satria meraih juara pertama melalui karya berjudul Canang di “Meja Madrasah: Ni Made Sudardani dan Dua Dasawarsa Menghidupkan Toleransi di Pesantren Bali Bina Insani”. Juara kedua diraih Abbas Abdul Basit dengan karya “Mbah Riyan Ulama Ahli Manuskrip dari Kudus”. Sementara itu, Mauliddinho Aditya Waluyo menempati juara ketiga melalui karya “Manaqib KH. Hasan Bisri Cholil: Peletak Fundamen Pendidikan dan Kelembagaan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang”.
Ketiga karya tersebut mengangkat tokoh dengan latar belakang dan kontribusi yang berbeda. Melalui pengalaman para penulisnya, lomba ini memperlihatkan bagaimana biografi dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sosok yang belum banyak diketahui sekaligus merekam jejak pengabdian mereka.
Zaky Satria: Menulis Toleransi dari Pesantren Bali
Zaky Satria, 22 tahun, merupakan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas. Ia juga menjabat sebagai Sekretaris GMNI FISIP Universitas Andalas serta terlibat dalam kegiatan Lions Club Padang Ceria dan The Gaia Initiative.
Di luar aktivitas tersebut, Zaky menekuni penulisan opini, esai, karya sastra, dan jurnalistik. Ia juga memiliki perhatian terhadap filsafat komunikasi, teori kritis, komunikasi politik, hubungan internasional, jurnalisme lingkungan, dan keberlanjutan.
Dalam lomba ini, Zaky mengangkat sosok Ni Made Sudardani, seorang perempuan Hindu yang mengajar di Pondok Pesantren Bali Bina Insani. Pilihan tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap kisah-kisah inspiratif yang belum banyak diketahui publik.
Bagi Zaky, pesantren tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama. Pesantren juga memiliki peran dalam pendidikan, kebudayaan, pembentukan karakter, dan gerakan sosial. Kisah Sudardani menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana hubungan lintas agama dapat tumbuh melalui kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang kelas.
Ia melihat pengalaman Sudardani sebagai cerita yang layak diangkat karena menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar gagasan yang dibicarakan, melainkan sesuatu yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan bersama. Hubungan antarmanusia yang dibangun melalui pekerjaan, interaksi, dan penghargaan terhadap perbedaan dapat menjadi bagian penting dari upaya merawat perdamaian.
Menurut Zaky, menulis tentang tokoh yang belum banyak dikenal juga memiliki arti tersendiri. Tulisan dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu kelompok atau lingkungan. Karena itu, kisah-kisah dari dunia pesantren perlu mendapat ruang agar masyarakat memiliki gambaran yang lebih luas dan tidak terjebak pada prasangka.
Ia berharap dapat terus menulis dan mengangkat cerita-cerita serupa. Baginya, tulisan bukan hanya sarana menyampaikan informasi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk mengurangi prasangka serta mendorong kehidupan masyarakat yang lebih damai.
Abbas Abdul Basit: Mengangkat Kiprah Mbah Riyan
Juara kedua, Abbas Abdul Basit, Lc., M.H., merupakan dosen di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Ia lahir di Tangerang pada 14 Februari 1991 dan menempuh pendidikan di Universitas Al-Ahgaff, Yaman. Semasa berada di Yaman, ia juga bergabung dengan Lingkar Pena Yaman.
Abbas telah menghasilkan sejumlah karya, di antaranya buku Al-Qur’an Tanpa Batas dan Filsafat Hukum dan Etika Profesi. Cerpen karyanya yang berjudul “Langit di Atas Dua Kepercayaan” juga terpilih dalam Festival Majelis Taklim 2025 yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Tulisan-tulisannya telah dimuat di sejumlah media, termasuk Kompas.id dan NU Online, serta berbagai jurnal. Ia juga pernah meraih penghargaan Best Paper dan Best Presenter.
Dalam sayembara ini, Abbas memilih menulis biografi Mbah Riyan, seorang tokoh yang memiliki perhatian terhadap filologi, tahkik manuskrip, dan penulisan buku. Menurut Abbas, kiprah Mbah Riyan belum banyak diketahui masyarakat, padahal kontribusinya dalam bidang keilmuan layak diperkenalkan secara lebih luas.
Ketertarikan Abbas terhadap sosok tersebut sebenarnya sudah muncul sebelum sayembara diselenggarakan. Ia telah mulai menulis kisah Mbah Riyan dan kemudian melihat lomba ini sebagai kesempatan untuk membawa tulisannya ke ruang publik yang lebih luas. Ia berharap biografi tersebut tidak hanya beredar melalui media sosial, tetapi juga dapat diterbitkan dalam bentuk buku.
Nama Mbah Riyan, menurut Abbas, mulai semakin dikenal ketika penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia diberikan kepadanya. Namun, bagi Abbas, pengenalan terhadap seorang tokoh tidak semestinya berhenti pada penghargaan yang diterima. Produktivitas dan kontribusi keilmuan yang dijalani juga perlu direkam agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Abbas mengaku senang atas capaian yang diraihnya dalam lomba tersebut. Ia berharap kisah Mbah Riyan dapat menjangkau lebih banyak pembaca dan menjadi contoh bagi penulis lain untuk mengangkat sosok-sosok yang belum banyak mendapat perhatian.
Pengalamannya juga membuat Abbas menaruh perhatian pada dukungan terhadap dunia kepenulisan. Menurutnya, masih ada penulis yang menghadapi keterbatasan biaya untuk menerbitkan buku maupun memublikasikan karya ilmiah. Ia berharap semakin banyak ruang dan dukungan yang tersedia bagi para penulis agar karya mereka dapat menjangkau masyarakat.
Melalui biografi Mbah Riyan, Abbas ingin menunjukkan bahwa pengabdian dalam dunia pesantren dan keilmuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai diperbincangkan. Ada pula kontribusi yang tumbuh melalui ketekunan meneliti, merawat manuskrip, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Mauliddinho: Merekam Sejarah Pendidikan Darul Ulum
Berbeda dengan dua pemenang sebelumnya, Mauliddinho Aditya Waluyo mengangkat tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan dan kelembagaan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Melalui karya berjudul “Manaqib KH. Hasan Bisri Cholil: Peletak Fundamen Pendidikan dan Kelembagaan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang”, ia berusaha memperkenalkan kembali sosok yang kontribusinya belum banyak diketahui masyarakat luas.
Mauliddinho, yang akrab disapa Dinho, merupakan santri Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, sekaligus mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di lingkungan Darul Ulum Peterongan, mulai dari jenjang SMP Darul Ulum 1 Unggulan, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang, hingga Madrasah Tafaqquh Fiddin Darul Ulum.
Perjalanan Dinho dalam dunia kepenulisan dimulai ketika duduk di kelas VII melalui pelatihan jurnalistik. Minat tersebut kembali berkembang saat ia berada di kelas XI, ketika mendapat tugas untuk mengirimkan tulisan ke Harian Surya. Sejak itu, ia mulai menekuni penulisan dan memublikasikan karyanya di sejumlah platform, termasuk duniasantri.co, tebuireng.online, dan Kompasiana.com. Pada 2024–2025, ia juga menjadi Koordinator Tim Artikel Majalah SOLUSI.
Dalam menulis biografi tokoh Darul Ulum, Dinho menghadapi persoalan yang menurutnya cukup mendasar, yakni keterbatasan catatan tertulis mengenai sejumlah masyayikh pesantren. Ia ingin merekonstruksi kisah kehidupan mereka agar kontribusi yang telah diberikan tidak terputus dari ingatan generasi berikutnya.
KH Hasan Bisri Cholil menjadi tokoh yang dipilih karena memiliki peran dalam pengembangan pendidikan dan tata kelola kelembagaan Darul Ulum. Dalam naskah biografinya, sosok ini digambarkan sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam pengembangan Madrasah Muallimat dan pembenahan pengelolaan pesantren. Pada 1962, Darul Ulum mengalami penataan manajemen yang menekankan pengelolaan secara kolektif-kolegial. Ia juga terlibat dalam pendirian Universitas Darul Ulum (UNDAR) pada 1965 bersama KH Musta’in Romly.
Selain kontribusi kelembagaan, tulisan tersebut turut menyoroti nilai-nilai yang melekat pada diri KH Hasan Bisri Cholil, seperti kerendahan hati, ketekunan dalam belajar dan mengajar, serta pemikiran yang berpandangan ke depan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari gambaran tentang bagaimana perkembangan lembaga pendidikan tidak dapat dilepaskan dari peran dan pengabdian orang-orang yang membangunnya.
Bagi Dinho, menulis biografi ini merupakan upaya untuk memperkenalkan kembali tokoh yang memiliki jasa dalam sejarah Darul Ulum. Ia merasa bersyukur dapat meraih juara ketiga, terlebih karena mendapat tanggapan positif dari para guru, kiai, keluarga, dan keturunan tokoh yang ditulisnya.
Ke depan, Dinho berharap dapat menyusun buku-buku biografi tersendiri mengenai para masyayikh Darul Ulum yang belum banyak dikenal. Harapan itu berangkat dari keinginannya agar sejarah pesantren tidak hanya tersimpan dalam ingatan lisan, tetapi juga terdokumentasi melalui tulisan yang dapat dipelajari oleh generasi selanjutnya.
Mengungkap yang Terlewat
Ketiga pemenang tersebut memiliki latar belakang dan pilihan tokoh yang berbeda. Zaky Satria mengangkat praktik toleransi melalui sosok Ni Made Sudardani, Abbas Abdul Basit memperkenalkan kiprah Mbah Riyan dalam bidang manuskrip dan keilmuan, sedangkan Mauliddinho Aditya Waluyo merekam kontribusi KH Hasan Bisri Cholil dalam perkembangan pendidikan dan kelembagaan Darul Ulum.
Perbedaan pilihan itu memperlihatkan bahwa dunia pesantren menyimpan beragam kisah yang dapat ditulis dari berbagai sudut pandang. Ada kisah tentang hubungan lintas agama, ketekunan dalam merawat tradisi keilmuan, hingga perjuangan membangun lembaga pendidikan. Semuanya menjadi bagian dari sejarah pesantren yang layak didokumentasikan.
Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren dalam Festival Dunia Santri 2026 menjadi ruang bagi para penulis untuk mengenalkan kembali tokoh-tokoh yang belum banyak diketahui publik. Melalui karya mereka, kisah dan kontribusi para tokoh pesantren dapat terdokumentasi sekaligus menjangkau pembaca yang lebih luas. Ketiga karya pemenang ini menunjukkan bahwa masih banyak sosok di lingkungan pesantren yang kisah hidup dan pengabdiannya layak diangkat ke dalam tulisan.
