Islam dalam Pemikiran Soekarno

Sebagai seorang tokoh nasionalis-sosialis, Soekarno selalu memerhatikan gerak-langkah bangsanya yang mayoritas beragama Islam. Pada masa Soekarno, umat Islam mengalami kemandekan dalam mengamalkan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan mereka cenderung melaksanakan ajaran Islam berdasarkan fikih sentris.

Karena itulah, Soekarno mengajak umat Islam untuk mengadakan interpretasi ulang ikhwal ajaran Islam yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakatnya. Ia mengajak untuk mengoreksi dan memikirkan kembali paham-paham Islam yang diyakini selama ini agar sesuai dengan perkembangan zaman. Menurutnya, firman Allah dan sunah Nabi tidak pernah berubah, tetapi pemahaman manusia akan hal ikhwal itulah yang berubah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pemahaman umat Islam akan ajaran agamanya harus terbuka (inklusif) untuk ditafsirkan (diperbaharui). Upaya menafsirkan kembali ajaran Islam adalah sebuah jalan ijtihad yang harus ditempuh-menuju pada kemajuan. Di sini tampak bahwa pemikiran Soekarno tentang Islam berbeda dengan beberapa tokoh Islam; M Natsir, Kartosoewirjo, Ahmad Hassan, dan lain-lain.

Bagi Soekarno, Islam haruslah berkait-kelindan dengan kemajuan dan elastisitas, tetapi tidak menghilangkan substansi ajaran Islam itu sendiri. Ini artinya, Soekarno berupaya menarik hukum Islam kepada sistem kehidupan kemasyarakatan dengan menganjurkan pemeluknya untuk bersifat rasional.
Soekarno menilai bahwa salah satu penyebab hukum Islam (ajaran Islam) mengalami kejumudan (membeku), adalah sejak munculnya sikap anti-rasionalisme yang melanda umat Islam yang hampir seribu tahun lamanya. Sedangkan dinamika kehidupan masyarakat dengan segala problem sosialnya terus mengalami perkembangan seiring dengan berkembangnya zaman. Jika ajaran Islam tidak diletakkan dalam kerangka yang harmonis (kontekstual) dan mampu menjawab tantangan zaman, niscaya kaum intelektual di Indonesia tak akan lekat dengan Islam.

Pemikirannya yang demikian ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pemikir Islam modernis Prof Farid Wajdi dan Muhammad Abduh, misalnya. Salah satu pemikiran Farid yang sering dikutip oleh Soekarno adalah bahwa agama Islam akan berkembang apabila umat Islam menaruh perhatian secara serius akan sendi-sendi ajaran Islam, yaitu kemerdekaan ruh, akal, dan pengetahuan. Sehingga, jika mereka menjalankan ketiga sendi tersebut, maka mereka akan terhindar dari kejumudan dan taklid buta (fanatik) atas indoktrinasi ajaran agama yang kaku.

Tinggalkan Balasan