Islam dalam Pemikiran Soekarno

Untuk menandaskan pemikirannya tentang Islam, Soekarno menulis sebuah artikel pada 1940 di majalah Panji Islam. Ia menulis dengan judul yang agak ngeri-ngeri sedap, yaitu “Islam Sontoloyo”. Tulisan tersebut adalah sebuah gugatan atau kritik Soekarno atas perilaku pemeluk Islam, mulai dari ulama hingga jemaah yang memandang Islam sekadar sekumpulan fikih semata, namun defisit etika.
Menurutnya, pemeluk agama Islam kala itu tidak mau berinisiatif dengan akal pikirannya untuk mengantisipasi perkembangan zaman (tidak mampu mengkontekstualisasikan ajaran Islam). Bahkan, mereka tak jarang menjadikan salah satu mazhab fikih sebagai legitimasi untuk kepentingan pribadi dan hawa nafsunya, dengan menghalalkan segala perbuatan yang mereka lakukan.

Lebih jauh lagi, Soekarno menyatakan bahwa ajaran Islam (Al-Quran dan Hadis) sekan telah mati, dikarenakan mereka terlalu mendewakan fikih sebagai pedoman hidup, bukan kalam Ilahi itu sendiri. Fikih seakan menjelma menjadi “tuan” dan “semangat Islam”. Padahal, menurut Soekarno, tiang agama yang sesungguhnya adalah kepatuhan dan ketundukan jiwa kepada Allah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam hal ini, kritik Soekarno terhadap fikih bukanlah fikih ibadah, seperti salat, puasa, dan sebagainya yang telah bersifat final, melainkan fikih mu’amalah (kehidupan sosial) yang dalam batas tertentu masih bisa ditafsirkan dan didialogkan kembali sesuai dengan perkembangan zaman.

Pernyataan dan kritiknya yang tegas, lugas, dan tajam tersebut bukan berarti Soekarno adalah orang Islam anti-fikih, anti-hukum Islam, dan anti-ulama. Tetapi ia berupaya untuk mengajak pemeluk agama Islam, terutama para pemuka agama (ulama) keluar dari indoktrinasi yang kaku, dengan mengembangkan pemikiran rasional sehingga mampu memerdekakan umat Islam Indonesia dari pelbagai belenggu yang mengitarinya, seperti pemikiran fatalistis.

Dengan rasionalisme dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam, akan melahirkan keselarasan antara otak dan hati, antara akal dan kepercayaan. Sehingga, pandangan tersebut dapat mengarahkan umat Islam terlebih di Indonesia kepada ideologi yang merdeka. Dengan demikian Islam dapat menjadi suatu tempat pertolongan, tempat bernaung para pemeluknya, bukan sebaliknya; menjadi penjara bagi para pemeluknya. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan