Seorang psikolog, Zakiah Daradjat, mencirikan orang yang memiliki kesehatan mental antara lain: memiliki sikap batin yang positif terhadap dirinya sendiri, mampu mengaktualisasi diri, mampu menyatukan fungsi-fungsi jiwa, mampu berotonom terhadap diri sendiri (mandiri), memiliki persepsi obyektif terhadap realitas -sebagai catatan, dunia filsafat tidak menerima secara begitu saja terkait adanya realitas obyektif-, mampu menyelaraskan kondisi lingkungan dengan diri sendiri -catatan: bisa juga sebaliknya.
Nabi mengajarkan kepada sahabat-sahabat apa arti Islam sebagaimana tertera dalam paragraf di atas. Konsekuensi logisnya seseorang harus menegasikan apa dan siapa saja di dalam hidup dan kehidupannya kecuali Allah. Dan meyakini bahwa Allah hanya mengutus Nabi Muhammad dalam dan untuk kehidupan kita. Konsekuensi praktisnya kita harus menyembah Allah dan meneladan Nabi Muhammad saw.

Titik temu antara keduanya terletak pada gejala kemanusiaannya. Islam merujuk pada sikap dan laku manusia menjalani kehidupan, kesehatan mental merujuk pada gejala jiwa manusia. Lalu, apa peran dan pengaruh Islam terhadap kesehatan mental sesorang? Nantikan tulisan selanjutnya.
