Islam Nusantara: Membaca Kembali Martin van Bruinessen

Kitab kuning, misalnya, bukan hanya buku pelajaran kuno, melainkan fondasi dari tradisi keilmuan yang mendalam dan disiplin. Pesantren tidak sekadar tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan pemikiran. Sementara tarekat, yang sering disalahpahami, justru menjadi ruang penyucian jiwa dan pengasahan akhlak.

Di dalam buku ini, Martin memaparkan bagaimana proses masuknya ilmu-ilmu agama Islam dari sisi sejarah. Kemudian, ia juga menyajikan data sejarah pendidikan Islam Indonesia yang berbasis pada teks Arab yang sering disebut sebagai kitab kuning. Selain itu, juga budaya-budaya tarekat yang hingga saat ini tersebar merupakan hasil dari sejarah panjang yang tidak hadir secara instan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hal yang membuat buku ini istimewa adalah pendekatan van Bruinessen yang tidak arogan sebagai peneliti asing. Ia tidak datang untuk menghakimi, melainkan memahami. Dengan menelusuri langsung cara belajar santri, struktur sosial pesantren, hingga peran tarekat dalam kehidupan spiritual masyarakat, ia menunjukkan bahwa Islam tradisional bukanlah lawan modernitas, melainkan bentuk lain dari kecanggihan yang berbeda wajah.

Namun, membaca buku ini di zaman sekarang juga mengundang keprihatinan. Banyak dari tradisi yang dibahas dalam buku ini mulai terpinggirkan. Generasi muda Muslim hari ini lebih akrab dengan ustaz YouTube atau potongan ceramah viral di TikTok, ketimbang memahami secara utuh isi al-Jurumiyah atau Ta’lim al-Muta’allim. Popularitas perlahan menggantikan otoritas. Islam dikonsumsi sebagai slogan dan identitas, bukan sebagai jalan atau laku hidup yang mendalam.

Tinggalkan Balasan