Di sisi lain, pesantren hari ini dituntut untuk berubah dan membuka diri terhadap teknologi dan sains. Tuntutan ini wajar. Namun, jika perubahan itu meninggalkan ruh dan akar keilmuannya, maka pesantren bisa kehilangan perannya sebagai benteng nilai. Di sinilah pentingnya buku ini: mengingatkan kita pada nilai dasar dari tradisi keislaman yang telah terbukti tangguh menghadapi zaman.
Buku ini bukan sekadar karya ilmiah; ia adalah cermin. Ia mengajak kita merenung: apakah kita masih menghargai proses belajar yang penuh kesabaran? Apakah kita masih menghidupkan nilai-nilai sufistik dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita masih menganggap pesantren sebagai tempat pencetak pemikir, bukan sekadar penghafal?

Martin van Bruinessen, melalui karya ini, justru mengajarkan kita satu hal: jika orang luar saja bisa melihat kekayaan Islam Nusantara, mengapa kita sendiri malah melupakannya?
