Islam Radikalis vis-à-vis Islam Rahmatal Lil ‘Alamin

Kaum Islam radikalis, sejatinya disinyalir memiliki cara pandang yang kaku dalam segala hal. Intinya, jika segala sesuatu—entah budaya, ekonomi, politik, dll—tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami, akan dicap sebagai kafir-dosa yang pada hilirnya, mereka akan memusuhinya dan membolehkan, bahkan mewajibkannya untuk menumpas hal-hal tersebut dengan segala cara, sekalipun dengan kekerasan.

Mereka memaknai Islam secara laterlek, persis dengan harfiah yang Al-Quran ataupun Hadis katakan. Padahal, sudah masyhur dan disepakati oleh para ulama bahwa dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran, harus melibatkan banyak hal, misal maqashid syariah-nya, asbabun nuzul, asbabul wurut, mantiq, konteks masyarakat ketika diturunkannya Al-Quran ataupun Hadis, nasakh mansukh, dan seabrek keilmuan lainnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ini semua bukan lain, agar mendapatkan pemahaman yang benar, utuh, dan kontekstual dengan zaman. Sebab jika Islam dimaknai secara laterlek saja, maka tidak akan bisa akrab dengan perkembangan zaman. Islam tidak akan mampu menjadi rahmatal lil ‘alamin. Islam tidak akan sholih likulli zaman wa makan.

Berbeda dengan Islam radikalis-tekstualis, Islam yang diwarisi oleh Nahdlatul Ulama (NU) adalah Islam yang moderat, baik dari segi politik, sosial, maupun budaya. Apa yang NU bawa merupakan khazanah lawas yang telah diajarkan oleh para ulama yang sanadnya muttashil sampai Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan