Cak Nun mengajarkan bahwa jika seseorang berbuat baik, adil, dan mencintai sesama, ia sedang mempraktikkan sifat Islam, terlepas dari apa nama agama yang ia anut secara formal.
Di sisi lain, meskipun dari perspektif berbeda, kajian Christoph Luxenberg terhadap teks Al-Qur’an juga bisa mendukung gagasan Islam sebagai sifat. Metodenya yang kontroversial dalam mereinterpretasi makna beberapa ayat Al-Qur’an, misalnya tentang “bidadari” yang ia tafsirkan sebagai “anggur putih”, menunjukkan bahwa pemahaman terhadap teks suci bisa beragam dan tidak tunggal.

Implikasi dari hal tersebut, jika penafsiran itu tidak mutlak satu, maka klaim kebenaran sepihak berdasarkan penafsiran kaku dan harfiah bisa berkurang. Ini membuka ruang bagi pemahaman Islam yang lebih fleksibel, yang fokus pada esensi ajaran daripada literalitas teks yang terkadang memicu paham eksklusivitas. Artinya, makna sejati “Islam” sebagai sifat damai dan berserah diri bisa lebih menonjol daripada sekadar nama belaka.
Islam yang Mencerahkan
Perdebatan dan konflik antaragama yang sering kita saksikan adalah cerminan dari pemahaman Islam yang terlalu berpegang pada Islam sebagai nama dan identitas sempit. Kita perlu lebih sering merenungkan Islam sebagai sebuah sifat: ketundukan pada Tuhan, kedamaian, dan kebaikan universal yang bisa diwujudkan oleh siapa saja.
Cak Nun mengajarkan kita untuk kembali pada esensi spiritual dan kemanusiaan. Luxenberg, secara tidak langsung, menunjukkan bahwa tafsir bisa fleksibel, mengurangi potensi klaim kebenaran tunggal.
