Hal tersebut yang kemudian memicu perdebatan tak berujung, rasa saling curiga, hingga praktik saling menjatuhkan. Islam yang sejatinya membawa pesan damai (dari akar kata salām, yang berarti damai, selamat), justru kerap terlihat sebagai pemicu konflik karena kekakuan dalam memahami nama dan simbol-simbolnya.
Esensi Islam sebagai Sifat

Berbeda dengan Islam sebagai nama, Islam sebagai sifat merujuk pada makna asal usul katanya. Islam berarti “ketundukan” atau “kepasrahan” kepada Tuhan yang Maha Esa, serta membawa keselamatan dan kedamaian.
Jika dilihat dari sifatnya, “keislaman” itu bisa dimiliki oleh siapa saja, dari agama apa pun, asalkan mereka menjalankan nilai-nilai ketundukan pada kebaikan, keadilan, dan kasih sayang yang universal. Al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim pun adalah seorang Muslim, jauh sebelum Nabi Muhammad. Ini menunjukkan bahwa esensi Islam itu ada pada sifat dan perilaku, bukan hanya nama dan label.
Dalam konteks ini, pandangan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) sangat relevan. Cak Nun sering mengingatkan bahwa hakikat Islam itu ada pada akhlak dan perbuatan yang baik, yang mencerminkan ketundukan total pada kehendak Ilahi yang penuh kasih.
Bagi Cak Nun, Islam adalah spirit untuk selalu menyerahkan diri pada kebaikan universal, membangun persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah), dan menembus sekat-sekat formal agama. Ia mengajak umat untuk tidak terjebak pada nama dan simbol yang seringkali membatasi, melainkan pada esensi ajaran yang memanusiakan dan mendamaikan.
