Islam Timur Tengah dan Islam Indonesia

Arab Barat memiliki potensi pemikiran politik yang lebih progresif. Itu sebabnya, Tunisia menjadi negara pertama yang melakukan seruan revolusi politik yang kala itu dinilai mulai tidak sehat (2011). Perubahan arah politik Timur Tengah sangat dipengaruhi dengan meletusnya revolusi Tunisia tahun 2011. Hal ini didukung dengan mulai munculnya media sosial saat itu sehingga angka penyebaran berita semakin mengagumkan, dan mempengaruhi negara-negara tetangga untuk mulai menuntut demokrasi sebagai pengganti politik otoritarian yang sudah hampir setengah abad membelenggu mereka.

Makin ke sini, kecenderungan Arab Barat memperlakukan Islam dalam ranah politik semakin mengalami penurunan. Mulai masuklah mereka pada paradigma ketiga dalam perspektif politik Islam, yang harusnya tidak pernah terjadi. Yakni, paradigma sekuleristik. Demokrasi terbarukan yang mereka canangkan dalam The Arab Spring dalam dekade kedua abad ke-21 ini telah mengarah pada diferensiasi agama dengan negara. Persis seperti apa yang dilakukan Eropa. Kekecewaan mereka terhadap politik otoritarian Islamis di masa lalu membuat mereka menganggap sudah saatnya mereka menuju era yang Barat capai, era sekuleristik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Percampuran budaya antara Arab dan Barbarian Eropa mengaduk di Arab Barat, terutama Maroko dan Tunisia. Puncaknya hingga saat ini adalah penyetujuan perjanjian normalisasi hubungan diplomatik Maroko-Israel yang diumumkan mantan Presiden AS Donald Trump tanggal 10 Desember 2020 lalu. Tindakan tersebut dinilai sebagai langkah pengkhianatan Maroko terhadap Piagam Organsasi Kerjasama Islam (OKI) sebagai penggagas utama solidaritas negara muslim pendukung kemerdekaan Palestina. Liga Arab yang diwakili Mesir juga tak memberikan tanggapan apa-apa atas keputusan ini, yang bahkan dinilai melanggar The Arab Peace Initiative tahun 2002. Sudan yang muak dengan kepemimpinan Islamis-otoriter Omar Basheer juga mempertimbangkan keputusan untuk bertransisi menuju negara yang sekuler.

Islam di tanah kelahirannya sudah meredup, baik secara substansional maupun esensional. Kini Islam sendiri mempertanyakan di mana ia akan berlabuh. Timur Tengah sebagai ibu kandungnya kini perlahan mengusirnya dari “rumah”. Lalu bagaimanakah masa depan Islam akan berlangsung?

Sepertinya, Indonesia dan kultur pesantrennya punya potensi yang kuat untuk menjadi kandidat “ibu angkat”. Sebagai negara yang memandang Islam melalui paradigma simbiotik, bukan mustahil Indonesia dan pesantrennya akan menjadi pusat peradaban Islam dunia di masa mendatang.

Waalahu A’lam.

Tinggalkan Balasan