Menariknya, kewajiban praktis ini baru dimulai pada waktu Dzuhur setelah malam tersebut, karena hukum kewajiban sangat bergantung pada penjelasan teknis (kaifiyah). Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang presisi; bimbingan teknis dari Jibril menjelang Dzuhur menjadi titik awal dimulainya pengabdian formal manusia kepada Tuhannya.
Membaca kembali bait-bait Aqidatul Awam perihal Isra Mikraj adalah upaya untuk menahan diri dari jebakan euforia rasionalitas yang berlebihan. Peristiwa ini mengajarkan bahwa hidup memang penuh misteri. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan rumus fisika atau matematika, namun bisa dirasakan dengan getaran sejarah dan iman.

Sebagaimana bait-bait terakhir yang mengabadikan gelar Ash-Shiddiq bagi Abu Bakar karena pembenarannya yang tanpa ragu, kita pun diajak untuk percaya. Percaya berarti merdeka dari ketergantungan pada logika materi. Kita diajak menyadari bahwa di atas langit yang tujuh, pernah terjadi sebuah percakapan suci yang membisikkan pesan abadi: bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di bumi ini, dan Nabi Muhammad benar-benar bahagia kala itu.
[1] Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Jala’ al-Afham Syarh ‘Aqidat al-‘Awwam (Riyad: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 1425 H.), h. 105-106.
[2] Minbar al-Islam, edisi Rajab 1396 H./1976 M. Dikutip dalam Abu Majdi Haraki, Misteri dan Keajaiban Isra Mi’raj, terj. Moh. Azar (Yogyakarta: Diva Press, 2016) h. 282.
