Peradaban modern memiliki satu kebiasaan yang jarang kita sadari, yaitu mengukur kebenaran hanya dari apa yang bisa dihitung, diuji, dan dibuktikan secara ilmiah. Hidup di tengah satelit, roket, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai simulasi teknologi, manusia perlahan terbiasa berpikir bahwa sesuatu baru dianggap masuk akal jika sesuai dengan standar sains. Di titik inilah Isra Mikraj sering ditempatkan secara keliru, bukan sebagai peristiwa iman, melainkan sebagai teka-teki fisika yang harus dicari pembenarannya.
Padahal sejak awal, Isra Mikraj tidak pernah hadir sebagai eksperimen ilmiah. Namun manusia modern kerap tergoda membandingkan Buraq dengan teknologi transportasi masa kini. Kita sering kali mengaitkannya dengan kecepatan cahaya, teori relativitas waktu ala Albert Einstein, atau gagasan tentang ruang dan waktu yang melengkung. Memang benar, teori relativitas menjelaskan bahwa waktu bisa berjalan lebih lambat pada kecepatan sangat tinggi. Contohnya, para astronot di Stasiun Luar Angkasa mengalami perbedaan waktu, dibanding manusia di Bumi. Fakta ini nyata dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

Namun di sinilah batas sains bekerja. Sains menjelaskan bagaimana alam berjalan, bukan mengapa Tuhan harus tunduk pada hukum alam tersebut. Relativitas waktu tidak otomatis menjelaskan Isra Mikraj, sebagaimana ilmu aerodinamika tidak bisa menjelaskan mengapa doa mampu mengubah seseorang. Ketika mukjizat dipaksa menjadi sekadar rumus, justru maknanya menjadi sempit.
Teknologi roket hari ini adalah puncak kemampuan rasio manusia. Roket Saturn V, Falcon Heavy milik SpaceX, atau misi Artemis menunjukkan betapa jauh manusia mampu menembus angkasa. Tetapi semua pencapaian itu membutuhkan proses panjang, bahan bakar besar, perhitungan rumit, dan tetap terikat pada hukum fisika. Berbeda dengan Isra Mikraj, ia tidak terjadi karena kecanggihan teknologi, melainkan karena kehendak Tuhan. Perbedaannya bukan soal cepat atau lambat, melainkan tentang dari mana kekuatan itu berasal.
Kesalahan berpikir sering muncul ketika sesuatu dianggap bermasalah hanya karena belum bisa dijelaskan oleh sains. Isra Mi’raj berada di wilayah yang tidak bersaing dengan sains, tetapi melampauinya. Ia bukan penolakan terhadap akal, melainkan pengingat bahwa akal bukan satu-satunya cara memahami realitas. Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan peristiwa Isra Mikraj, yang diuji bukan kecerdasan intelektual umatnya, melainkan kejujuran iman mereka. Abu Bakar tidak meminta penjelasan secara saintifik, seperti kosmologi atau simulasi ruang-waktu. Namun, Ia mempercayai Nabi karena kejujuran dan integritas kenabian, bukan karena hitung-hitungan fisika.
Di era kecerdasan buatan (AI) dan big data, manusia semakin yakin bahwa segala sesuatu bisa dimodelkan dan dijelaskan dengan data. Namun justru di sinilah Isra Mikraj menjadi cermin yang jujur. Ada realitas yang tidak bisa direduksi menjadi angka tanpa kehilangan maknanya. Seperti cinta, kesadaran, dan tujuan hidup, iman bekerja di wilayah yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau oleh algoritma.
Isra Mikraj bukan ancaman bagi sains, dan sains juga bukan musuh iman. Yang bermasalah adalah cara berpikir yang menjadikan sains sebagai hakim terakhir atas semua hal, termasuk perkara yang bersifat transenden. Dari Buraq ke roket, perbedaannya bukan soal rasional atau tidak rasional, melainkan tentang memahami batas peran manusia di hadapan Yang Maha Kuasa.
Pada akhirnya, Isra Mikraj mengajarkan pelajaran penting yang sering dilupakan oleh peradaban teknologi, yakni tidak semua yang benar harus bisa dijelaskan, dan tidak semua yang belum bisa dijelaskan berarti tidak benar. Di sanalah iman menemukan maknanya, bukan sebagai pelarian dari akal, tetapi sebagai pengakuan jujur atas keterbatasannya.
