Kalau mereka tak mau menjadi santri, undanglah sebagai tamu istimewa. Beri mereka akses dan waktu seluas-luasnya untuk mengamati langsung dengan mata kepala sendiri, memahami langsung dengan keterbukaan hati, kehidupan di pesantren. Biar mereka belajar apa yang pernah dilakukan oleh peneliti asal Jepang Mitsuo Nakamura, peneliti asal Australia Greg Barton, dan terutama peneliti asal Belanda Martin van Bruinessen.
Sewaktu masih mahasiswa, saya pernah mewawancarai Martin van Bruinessen untuk kepentingan majalah kampus. Saya diajak ke rumahnya di Yogyakarta. Betapa terkejut dan takjubnya saya ketika memasuki rumahnya. Rumahnya adalah perpustakaan. Hampir semua bukunya adalah kitab kuning. Rasanya perpustakaan pesantren malah kalah. Setelah bertahun-tahun melakukan riset, barulah Martin van Bruinessen menulis tentang pesantren, kitab kuning, dan tarekat. Ia menteorisasikannya, juga memberikan kritik. Ia meneliti dulu, baru menulis buku. Bukan ngonten dulu, baru mencari tahu.

Karena itu, rangkul dan undang mereka, para youtuber dan konten kreator itu, untuk datang ke pesantren. Biar mereka bisa meniru apa yang telah dilakukan oleh Martin van Bruinessen, Mitsuo Nakamura, dan Greg Barton, misalnya. Jangan malah digeruduk dan dipersekusi.
Saya teringat salah satu pesan KH Marsudi Syuhud. Beberapa tahun lalu saya pernah sowan ke ndalem Kiai Marsudi. Begini pesannya kepada jejaring duniasantri: “Santri itu sudah beres, tak usah diurus-urus. Justru, tugas kita itu sekarang menyantrikan yang belum santri itu.” Nah, tugas untuk merangkul dan mengundang mereka bisa diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), atau lembaga dan komunitas yang memiliki kepedulian yang sama.
Bagaimana kalau mereka menolak diundang? Ya tinggal “dikontenkan” saja: Eh, ternyata Guru Gembul menolak diundang ke pesantren; Eh, ternyata Stevansyoung tak mau diundang ke pesantren; Eh, ternyata DF Larasati belum berkenan diundang ke pesantren.
Mungkin terlihat sepele. Tapi hal tersebut akan menjadi simulakrum baru dalam dunia hiperrealitas.
