Jangan Ada Persekusi, Undang Jadi Santri

Apa yang ditayangkan Trans7 itu, dan reaksinya atasnya, akan terus menjadi “bahan gorengan” oleh banyak youtuber atau konten kreator seperti Stevansyoung dan Guru Gembul dan sejenisnya. Sebab, bagi mereka, isu dan kontroversinya sangat panas dan menarik, dengan demikian akan menyedot perhatian publik. Golnya adalah konten mereka viral dan platform media mereka mendulang banyak views. Mereka ini, bisa jadi, orang-orang yang tidak tahu pesantren atau yang memang pembenci pesantren sehingga punya agenda tersembunyi (hidden agenda).

Sialnya, fenomena tersebut terjadi di era post-truth. Era, di mana kebenaran hakiki, atau fakta-fakta objektif, tak lagi punyak pengaruh signifikan dalam membentuk opini dibandingkan dengan emosi atau keyakinan pribadi. Pada arena ini, ketika hiperrealitas telah diindustrialisasi atau dimonetisasi, propaganda penihilan eksistensi pesantren akan masif dan sangat sulit untuk dibendung. Lalu, opini publik akan terbentuk sesuai dengan agenda mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Apa yang Harus Dilakukan

Kalangan pesantren harus tahu bahwa kita sekarang hidup di zaman seperti ini, zaman di mana batas antara yang benar dan takbenar menjadi kabur. Orang hanya percaya pada yang (di)tampak(kan). Karena itu, dalam kasus tayangan Trans7, bereaksi secara berlebihan, apalagi sampai mempersekusi, justru akan merugikan citra pesantren.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Salah satunya justru dengan cara merangkul mereka, semuanya. Coba bayangkanlah ini: Guru Gembul dan Stevansyoung dan sejenisnya, atau rumah produksi pembuat konten di Trans7 dan voice over-nya dan sejenisnya, diundang ke pesantren.

Meskipun, mereka getol berbicara tentang pesantren, saya yakin mereka belum pernah menjadi santri, atau sekadar berkunjung ke pesantren. Mereka baru melihat dari luar pagar. Beri kesempatan mereka untuk datang langsung ke pesantren. Mungkin bisa mengalami rasanya menjadi santri satu-dua pekan atau sebulan. Mereka bisa tidur dan mandi bareng santri. Mereka bisa mayoran dan roan bareng santri. Mereka bisa merasakan berelasi langsung dengan kiai.

Tinggalkan Balasan