Berdasarkan penjelasan Azra, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, kita dapat menyimpulkan, kalau jaringan ulama terbentuk melalui dua cara. Yaitu, ada jaringan ulama yang secara langsung dan tidak langsung.
Jaringan ulama yang terbentuk secara langsung berdasarkan pada hubungan keilmuan antara guru-murid, maupun melalui hubungan keluarga antara anak-orang tua atau menantu-mertua.

Seperti, dalam jaringan Wali Songo, para wali terhubung melalui ikatan nasab dan ilmu. Sunan Ampel dan Sunan Bonang merupakan ayah dan anak. Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga punya hubungan guru dan murid. Dan, wali-wali lain yang kalau kita telusuri memiliki hubungan ulama dalam jaringan secara langsung berdasarkan nasab dan ilmu.
Ada lagi hubungan ulama dalam jaringan yang secara tidak langsung. Misalnya, ada ulama yang tidak pernah mengaji pada guru yang sama, namun guru-guru mereka pernah belajar pada satu guru yang sama. Atau, memahami ajaran ulama dan mengacu pada karya-karya yang sama juga secara tidak langsung memunculkan hubungan jaringan ulama.
Kalau kita masih mengambil contoh dari sejarah Wali Songo, ini dapat digambarkan melalui relasi para santri dari para wali yang nyantri di Pesantren Ampel.
Sunan Kalijaga, yang menyebarkan Islam di Jawa, belajar pada Sunan Bonang yang nyantri di Ampel. Datuk Ri Bandang, yang menyebarkan Islam di timur Nusantara, belajar di Pesantren Giri dan sebagaimana kita tahu bahwa Sunan Giri nyantri di Ampel. Dalam hal ini, secara tidak langsung, Sunan Kalijaga dan Datuk Ri Bandang memiliki ikatan ulama dalam jaringan yang nyambung pada Sunan Ampel.
