Diceritakan, menjelang ajal, Abu Nawas—yang hampir selalu tampak ceria—memamerkan wajah susah di antara sanak keluarga yang menungguinya. Bukan karena takut mati, melainkan—menurutnya—kematian bakal menghentikan amalnya: membuat lelucon; memecahkan tawa bagi sesama. Kendati demikian, selera humornya tak kunjung sirna.
Maka ia berwasiat kepada mereka: selain minta dikafani dengan kain kafan bodol (lama, bukan baru)—dengan tujuan mengecoh malaikat Munkar-Nakir yang bakal mengiranya sebagai mayat yang telah lama mati sehingga terhindar dari pertanyaan mereka—, ia minta dibuatkan gembok yang lebih besar daripada pintu bangunan makamnya.

