“Maksudnya keadaannya Le, sehat apa nggak!”
“Ohh, sehat, dia yang menemukan Tole waktu tersesat!”

“Nanti besok kalau mau nyari kayu bakar ke sini dulu ya, Mbak mau kirim surat balasannya!”
Setelah mengiyakan, bergegas aku pamit. Ada rasa bangga sudah menyampaikan tugas dengan sukses. Aku merasa sudah ikut berjuang, meski hanya mengantarkan surat.
***
Di rumah, Emak langsung memelukku dan membelai rambutku. Aku ceritakan padanya kalau aku tersesat dan baru menemukan jalan saat Maghrib. Tapi Emak tak percaya. Dia tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu, hingga akhirnya aku jujur padanya.
Mendengar ceritaku, Emak terlihat bangga. Malahan, besok aku disuruh membawa bekal yang banyak untuk para tentara pejuang itu.
“Pasti jumlah mereka banyak, sembunyi di hutan untuk menghimpun kekuatan, Emak yakin sebentar lagi Indonesia merdeka!”
Baru kala itu aku melihat Emak begitu bersemangat, hingga aku merasa bergetar dan mendidih darahku terpacu untuk ikut berjuang.
***
Hari-hari berikutnya, aku ke hutan tak sekadar mencari kayu. Terkadang membawa makanan atau surat yang nanti aku letakkan di balik semak-semak, yang nantinya diambil Mas Arya. Tapi terkadang Mas Arya menemuiku untuk menanyakan situasi di desa atau menitipkan surat. Hanya dia yang kutemukan di hutan ini, tak ada yang lain. Entah berapa jumlah tentara pejuang di hutan, aku tak pernah tahu.
