Jejak Pejuang

Tapi hari naas itu akhirnya datang juga. Saat sedang berjalan sendirian, aku diadang Mas Badil dan kawan-kawannya. Mereka merampas bakul nasi dan menemukan sepucuk surat titipan Mbak Siti Ayuni. Mas Badil menamparku dengan keras dan menghardikku untuk segera balik ke rumah.

Setiba di rumah, Emak langsung merangkulku dan memintaku berdiam di kamar. Kemudian banyak orang berdatangan. Mereka kemudian ramai-ramai membuat bambu runcing. Salah seorang pemuda menanyakan lokasi di mana aku bisa bertemu dengan Mas Arya. Lalu pemuda itu mengajak orang-orang, termasuk Bapak, pergi ke hutan. Hanya beberapa orang yang diminta tetap tinggal menjagaku dan Emak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak lama kemudian, setelah Bapak dan orang-orang kampung pergi ke hutan, mobil truk yang membawa tentara Belanda lewat, diikuti para kaki tangannya yang berlari sambil mengokang senjata. Mereka tak ada yang datang ke rumah. Semuanya menuju hutan. Emak memintaku membantu dengan doa, agar tentara pejuang, Bapak dan warga desa diberi kekuatan.

***

Setelah serdadu Belanda dan antek-anteknya pulang dari hutan, para penduduk desa banyak yang bergeas pergi ke hutan. Begitu juga aku dan Emak. Tapi Bapak tidak bisa diketemukan. Hinga larut menyergap, kami pun tetap tidak bisa menemukan. Terpaksa aku harus pulang tanpa Bapak.

Ketika pagi tiba, Bapak akhirnya bisa ditemukan, tapi sudah tak bernyawa, termasuk Mas Arya dan beberapa orang pejuang lainnya. Emak berusaha tegar. Air mata menetes tanpa terdengar isak tangisnya. Aku pun berusaha menahan tangis, meski menyayat tapi aku berusaha kuat. Peristiwa kematian seperti ini sudah sering terjadi.

Hari itu juga, Bapak, Mas Arya, dan pejuang lainnya dimakamkan di pinggiran hutan. Semua warga desa ikut menghadiri pemakaman itu, termasuk Mbak Ayuni, yang tak henti-hentinya meneteskan air mata, sebagaimana aku dan Emak yang tak kuat membendung air mata.

***

Sekarang setelah merdeka, makam itu sudah tidak lagi ada di pinggiran hutan. Hutannya sudah hilang, berubah menjadi kawasan pabrik dan desanya sudah berganti kawasan perumahan. Setiap menjelang lebaran, komplek makam itu ramai dikunjungi orang berziarah. Banyak orang berdagang dan banyak juga orang berseragam ormas. Orang berseragam inilah yang mengelola parkir, meminta uang keamanan pada pedagang, hingga meminta uang masuk area makam pada pengunjung untuk dana pemeliharaan, dalihnya. Aku yang sudah menua hanya bisa memberi tanpa bisa berkata apa-apa.

ilustrasi: lukisan s sudjojono.

Tinggalkan Balasan