Jelajah Pondok di Sumatra (5): “Sopo-sopo” dan Kemandirian Santri

Syekh Mustafa Husein Nasution merupakan pionir pendidikan kepesantrenan di Tapanuli Selatan. Memang, sebelumnya sudah ada pendidikan prapesantren. Misalnya saja, sebelum berangkat ke Makkah, Syekh Mustafa Hussein Nasution lebih dulu ke Huta Pungkut Madina Tapsel untuk belajar pada ulama terkemuka di sana, yaitu Syekh Abdul Hamid. Syekh Abdul Hamid diduga adalah seorang alim lulusan halaqoh Masjidil Haram di Makkah.

Syekh Mustafa Hussein Al-Mandaily sendiri berangkat ke Makkah sekitar 1899. Ia berada di sana selama dua belas tahun. Ia sempat memimpin satu halaqoh sendiri di sana sampai ia pulang ke Desa Tano Bato karena ayahnya meninggal dunia pada 1911.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setahun kemudian, Syekh Mustafa membuka halaqoh di masjid di samping rumah orang tuanya. Pada awal pendirian halaqoh tersebut, muridnya sejak di Makkah ikut serta menjadi santri dan sekaligus memabantunya mengajar. Selain itu, ikut pula Abdul Halim Khatib yang kemudian berangkat ke Makkah. Sepulang dari Makkah, Syekh Halim Katib kembali ke Madina dan magang mengajar di Al-Mustafawiyah.

Memang, Pondok Pesantren Almustafawiyah menjadi patokan tertinggi mutu pembelajaran kepesantrenan di Tapanuli Selatan. Tidak heran pula setelah itu banyak pembelajar yang pulang dari Makkah memilih untuk magang mengajar dulu di Purba Baru. Sebut saja Dja’far Abdul Wahhab, pengajar terbaik di Tapsel lulusan Kairo Mesir. Ia mengajar di Mustafawiyah sebelum mandiri dan membuka pondok sendiri.

Salah satu yang tidak dilupakan adalah Syekh Ali Hasan Addary. Tak pelak, ia adalah salah satu tokoh NU yang paling berpengaruh di Sumatra Utara. Syekh Ali Hasan Addary merupakan tokoh pendiri IAIN Sumatra Utara. Sosok yang banyak mengembangkan studi hadits dan perbandingan agama di Sumatra Utara ini belajar banyak dari Syekh Mustafa Husein Nasution.

Menarik juga jika setelah ini kita menelusuri penyebaran dan persebaran parsikola Puba yang kemungkinan juga membuka pondok-pondok pesantren di seantero Sumatra Utara. Semoga kita punya kesempatan untuk itu.

Tinggalkan Balasan