Jelajah Pondok di Sumatra (5): “Sopo-sopo” dan Kemandirian Santri

Pondok Pesantren Al-Mustafawiyah, demikian pondok pesantren tersebut secara resmi dinamakan, mulai menampakkan perkembangannya yang pesat sejak 1916. Jika sebelumnya para santri masih dapat ditampung di dalam masjid karena jumlah baru sekitar 20-an orang, maka sejak 1916 itu santri bertambah menjadi 60-an orang.

Ali Sati, seorang dosen di IAIN Padangsidimpuan, mencatat bahwa pembangunan sopo-sopo tersebut pada awalnya adalah inisiatif para santri. Proses pengajaran pada waktu itu persis meniru halaqoh yang dilaksanakan di Darul Ulum Makkah, terutama pada kemandirian santri untuk mencari dan mendatangi sendiri syekh yang diinginkan. Begitu juga di Purba, para santri datang sendiri, mencari tempat untuk tidur sendiri dan mengatur waktu belajar sendiri di luar halaqoh yang sudah dijadwalkan oleh Syekh Mustafa, yaitu bakda maghrib dan isya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sopo-sopo atau gubuk-gubuk atau pondok-pondok sederhana tersebut makin lama-makin banyak sejalan dengan jumlah santri yang datang. Keberadaan pondokan-pondokan kecil inilah yang menjadi “identitas” bagi Pondok Pesantren Purba. Oleh karena itu, tammatan “Sikola Purba” dapat disimpulkan termasuk pribadi-pribadi yang sederhana, zuhud, dan tekun dalam menjalani hidup.

Perlu dicatat bahwa hingga 1959, Pondok Pesantren Mustafawiyah hanya menerima santriwan saja. Kondisi sebelumnya belum memungkinkan bagi santriwati untuk belajar di halaqoh yang berlangsung pada malam hari tersebut. Pondok yang terus mengajarkan kitab-kitab klasik tersebut baru dapat menerima santriwati setelah mampu membangunkan asrama santriwati lengkap dengan peralatan memasak yang diperlukan. Ingat, meskipun ada asrama, santriwan tetapi tinggal di sopo-sopo sederhana yang mereka bangun sendiri.

Setelah seabad lebih berjalan pondok-pondok berukuran 3×2 meter persegi itu masih bertahan dan menjadi identitas lembaga pendidikan yang sudah berlangsung 108 tahun tersebut. Selanjutnya, pondok pesantren ini menjadi identitas Desa Purba Baru bahkan lebih besar lagi menjadi identitas Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Pondok dan masyarakat desa adalah dualitas yang saling mewarnai. Sekarang ini, kegiatan pesantren adalah juga kegiatan desa. Keduanya bagai dua sisi mata uang.

Tempat Magang Para Guru

Tinggalkan Balasan