“Bersarung” tidak identik dengan keterbelakangan peradaban. Yang harus dilibas adalah “kesan” bahwa kaum santri miskin pengetahuan umum, buta teknologi, “taqlid buta” dan rentan menjadi korban “pihak-pihak yang Berkepentingan” khususnya dalam misi ekonomi, politik dan budaya.
Era digital harus difahami sebagai tantangan normatif para santri. Mau tidak mau para santri harus segera dan mendesak dalam menyikapinya. Sebagai “assets” NKRI yang memiliki nilai bersejarah dalam proses dan pasca kemerdekan NKRI, para santri harus terdepan menjadi gerbang NKRI agar tidak kehilangan generasi.

Idealnya para santri millenial harus memperhatikan khazanah disiplin ilmu dengan tetap mengedepankan ilmu agama sebagai pengarah “akal dan hati” dalam interaksi kehidupan dengan berbagai pihak dan di segala bidang. Menurut Fauzan Muttaqien (2019), santri sebagai aset bangsa, beberapa hal yang harus diperhatikan para santri untuk menghadapi era disrupsi, yaitu,pertama, jangan pernah berhenti berinovasi, khususnya dalam menyikapi era ketidakpastian di bidang ekonomi, sosial, budaya dengan tetap mempertahankan jati diri sebagai seorang muslim dan rakyat NKRI.
Kedua, pandai dalam menerjemahkan regulasi; perkembangan teknologi membuat setiap insan lebih mudah mencari pilihan hidup. Oleh karena itu, tetaplah tunduk pada petuah-petuah alim ulama sebagai waratsatul anbiya. Merekalah sebagai panutan utama dalam menyikapi segala problematika kehidupan di berbagai bidang. Jangan membuat keputusan-keputusan yang membuat degradasi moral, dan salah persepsi tentang ajaran-ajaran agama, sehingga menimbulkan sentimen negatif eksternalitas terhadap ajaran agama Islam.
Ketiga, manfaatkan teknologi di jalur yang tepat; setiap insan memiliki hak untuk memilih keputusan hidup yang menawarkan sesuatu dengan berbagai kelebihan. Oleh karena itu, sudah seharusnya para santri memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas diri dan memfilter keberagaman informasi, sehingga tidak terjebak oleh “keputusan hidup” yang seolah-olah baik, namun salah menurut ajaran agama islam.
Keempat, jangan pernah merasa puas; setiap santri di era millennial harus mengembangkan performa nya, baik secara verbal, fisik, maupun psikis, agar dapat bersaing dengan SDM kalangan lainnya. Karena itu kewajiban para santri adalah selalu menumbuhkan kualitas keilmuan, meningkatkan profesionalitas, menjaga Integritas, meningkakan Iman, Islam dan Ikhsan dimanapun berada sehingga tidak rentan terjebak dalam perbuatan syirik dan tercela.
