Jihad Santri di Era Digital

Kelima, ciptakan hubungan harmonis dalam “lintas keberagaman”; Pada era disrupsi ini, penting bagi para santri untuk berinteraksi secara terbuka dengan berbagai pihak untuk mencapai “poin-poin” yang berkeadilan dan kemakmurann bersama. Menjauhkan dari sifat egosentris dan agnostisme. Dengan demikian para sanntri akan menjadi sosok yang siap memberi solusi secara arif dan cekatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana prinsip-prinsip 4 pilar kebangsaan.

Kita menyadari bahwa dalam mengurus negara ataupun perusahaan selain dibutuhkan moral yang baik, juga dibutuhkan kemampuan akademik sesuai dengan kompetensi yang di butuhkan sebagai seorang pemimpin untuk menjalankan roda organisasi. Fungsi manajemen bisa dijalankan tidak hanya dengan sistem dan prosedur yang baik, namun dibutuhkan moral yang baik. Santri dibentuk dalam satu budaya sederhana dan mumpuni dalam hal spiritualitas. Walaupun mereka datang dari strata sosial yang berbeda-beda, namun ketika mereka memasuki dunia pesantren semua diperlakukan sama .

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Agama mengajarkan bahwa derajat manusia di sisi Tuhan tidak diukur dari status sosial seseorang. Budaya yang dibangun oleh dayah atau pesantren sangat baik dalam membentuk karakter santri dalam memahami hidup, mempermudah sanri cepat menyesuaikan diri pada lingkungan baru di mana mereka berada

Era disrupsi lebih berkiblat kepada kehidupan barat, sangat bertolak belakang dengan kehidupan di kalangan pesantren yang fokus garapannya di bidang spiritual, itulah menjadi tugas dan tantangan santri dalam menjalani kehidupan beragama berbangsa dan bernegara. Tantangan dalam bernegara mulai ramai di dengungkan mengenai paham-paham yang  bercorak islam-radikalisme dengan membawa visi untuk mengubah dasar negara menjadi ideologi yang murni dari Islam. Dasar negara yang sudah menjadi kesepakatan semua warga negara (Pancasila) dianggapnya tidak relevan lagi dibuat sebagai landasan bernegara, apalagi mereka (paham radikalisme) menganggap sudah waktunya negara yang mayoritas menganut agama islam, maka seyogyanya harus menggunakan Islam sebagai landasan bernegara.

Menjadi santri di era milineal memang berat. Kalau santri zaman old hanya berbekal takdhim kepada kiainya, mereka sudah bisa menjadi “orang”. Mestinya kita berkaca kepada santri zaman old. Akhlak adalah hal paling utama dalam segala hal. Setelah itu barulah berilmu dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Maka, sebagai santri tidak hanya memberikan nasihat kepada orang lain dan tidak menjalankannya. Nasihat itulah yang mesti diterapkan terlebih dahulu kepada diri pribadi. Inilah sebuah tantangan bagi santri.

Beranjak dari paparan di atas, momentum Hari Santri nasional hendaknya santri milenial harus menjadi sebagai sosok generasi penerus bangsa yang berjiwa Qur’ani, memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor dalam segala lini kehidupan terutama perubahan mental, spritual, dan intelektual, bukan hanya di kalangan dayah atau pesantren, tapi juga masyarakat umumnya.  Kalau tidak sekarang, kapan lagi santri berbuat demi agama dan negara ini?

Tinggalkan Balasan