Jimat Keluarga Pengemis

Ketika gelap mulai turun, ia berpapasan dengan perempuan paro baya yang menggandeng tangan putrinya. Dari jauh, kedua perempuan itu tampak bagai siluet. Saat berpapasan, tampak nyata kedua perempuan itu mengulurkan tangan sembari berucap, “Om… kasihani kami. Sudah beberapa hari kami belum dapat rezeki.”

Langkah lelaki itu terhenti, seketika meraba sakunya, kemudian merogohnya. Ia baru ingat di kantung celananya ada uang receh yang dipungut dari dapur. Selembar uang kertas dua ribu rupiah itu kemudian ia serahkan kepada kedua pengemis itu. Lelaki itu kemudian berlalu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Inilah rezeki pertama kita hari ini, Bu,” kata pengemis cilik itu sembari mencium uang kertas lusuh yang baru diterimanya.

Si ibu melirik, mengambil uang kertas itu dari tangan putrinya, lalu melakukan hal yang sama. “Semoga ini menjadi penglaris kita esok hari, Nak,” katanya usai mencium uang itu.

***

Itulah untuk kali pertama aku merasa sangat berarti: dicium seseorang dengan tulus.

Sebab, jangankan dicium, karena rupaku sudah lusuh, kucel, dan keriput, apalagi nilainya cuma dua ribu rupiah, ada rasa setengah jijik orang-orang memegangku, atau memasukkannya ke dalam dompet. Jika ada orang yang terpaksa membawaku pulang ke rumahnya, seringkali aku disurukkan di tempat-tempat yang tersembunyi, seperti yang dilakukan oleh lelaki tadi, atau dilemparkan ke arah tukang parkir atau disedekahkan kepada para pengemis.

Tapi di tangan kedua pengemis ini, aku merasa diperlakukan istimewa. Dicium dengan penuh keharuan, bergantian. Tapi, lihatlah, itu belum seberapa jika dibandingkan bagaimana nanti mereka memperlakukan diriku, selembar uang kertas lusuh, kucel, keriput dengan teraan angka yang sudah mulai buram, dua ribu rupiah.

Selepas isya mereka baru sampai di rumah, yang berupa sebuah gubuk reyot di tepi sungai. Di dalam gubuk itu hanya ada selembar kasur lusuh yang sudah gepeng, yang dihiasi tembelan di sana-sini. Kasur itu pun mereka pungut dari tempat pembuangan sampah.

Benda paling berharga di dalam gubuk itu adalah kulkas satu pintu. Eh, sebentar, sebenarnya itu adalah bekas kulkas. Atau kulkas bekas. Atau rongsokan kulkas. Benda itu juga mereka pungut dari tempat pembuangan sampah. Mereka memungut benda itu bukan untuk dijadikan mesin pendingin karena memang sudah tidak berfungsi. Kompresor dan kondensornya juga sudah tidak ada. Kulkas itu tinggal kerangkanya. Rongsokan kulkas yang sudah karatan itu mereka ambil untuk dijadikan lemari. Di dalam kulkas bekas itulah mereka menyimpan segala kekayaan.

Tinggalkan Balasan