Jimat Keluarga Pengemis

Maka, di dalam gubuk itu, tempat istimewa adalah bagian atas atap kulkas satu pintu. Atap kulkas itu mereka perlakukan seperti meja dan diberi taplak. Di situlah kedua pengemis itu, terutama sang anak, menaruh benda-benda, jika punya, yang dianggap berharga. Di situ terlihat ada pengilon, bedak sasetan, sepotong gincu, dan sisir rambut yang sudah ompong. Eh, ada juga boneka barbie yang telah kehilangan sepasang kakinya. Jika kita melihatnya sambil duduk, boneka barbie itu juga akan terlihat seperti sedang duduk.

Tentu saja aku juga dianggap sebagai benda istimewa, dan karena itu setelah dielus-elus dan dirapikan, aku ditaruh di atas kulkas itu dengan cara hati-hati, persis di samping boneka barbie itu. Yang mengejutkan, ketika kedua perempuan itu hendak berangkat tidur, mereka berdiri di depan kulkas. Si ibu yang kemudian mengambilku, mencium diriku di kedua sisi, lalu menyerahkan kepada putrinya. Pengemis kecil itu juga melakukan hal yang sama. Setelah itu, mereka bersama-sama berdoa, agar esok hari beroleh rezeki yang lebih banyak lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku kembali ditaruh di samping barbie. Aku begitu terharu melihat bagaimana mereka memperlakukan diriku begitu istimewa. Aku benar-benar merasa berarti. Ketika mereka mulai terlelap, tanpa kusadari tiba-tiba aku turut mendoakan mereka. Aku berdoa agar teman-temanku, baik yang sudah lusuh seperti diriku maupun yang masih licin, mau menghampiri kedua pengemis ini.

Keesokan harinya, sebelum berangkat mengemis, ritual itu mereka ulangi. Mereka bergantian menciumku, lalu berdoa bersama-sama untuk limpahan rezeki. Mereka pergi setelah kembali meletakkan diriku di samping barbie dengan penuh hati-hati. Sekali lagi aku merasa terharu dan begitu dihargai. Saat melihat langkah kaki mereka meninggalkan gubuk, sekali lagi, tanpa kusadari tiba-tiba aku turut mendoakan mereka.

Itulah hari-hari yang kusaksikan selama berada di dalam gubuk ini. Aku tak pernah dibelanjakan. Aku tak berpindah tangan. Aku telah menjadi milik mereka. Tiap hari, aku selalu dicium ketika mereka hendak berangkat mengemis, atau ketika mereka hendak berangkat tidur. Dan, percaya atau tidak, setiap sehabis dicium mereka, diam-diam aku mengamini doa-doa mereka. Selalu seperti itu.

Entah karena kegigihan usaha mereka atau tersebab doaku yang terkabul, yang aku lihat, tiap hari mereka membawa pulang rezeki dalam jumlah lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Hingga, suatu hari, mereka mulai tidak mengemis lagi ketika sudah mampu membuka warung kecil di depan gubuknya. Semakin hari kian banyak orang datang membeli barang dagangan mereka. Semakin hari kian banyak teman-temanku yang berkumpul di gubuk ini.

Meskipun mereka sudah tidak mengemis lagi, dan warungnya semakin maju, ternyata ritual mereka tak terlupakan. Setiap hendak berangkat tidur, mereka menciumku secara bergantian lalu bersama-sama berdoa dan aku mengamininya. Pagi hari menjelang buka warung, hal yang sama terus mereka ulangi dan aku tak henti-hentinya mengamini doa-doa mereka.

Lama-lama aku menyadari, karena tak pernah dibelanjakan, aku bukan lagi sebagai alat tukar, melainkan jimat bagi keluarga pengemis ini.

Ilustrasi: Barli Sasmitawinata.

Tinggalkan Balasan