Jaringan Jiou
Di Bolaang Mongondow, sebagaimana temuan saya ketika menelusuri jejak ulama lokal abad ke-20 M di pesisir selatan, para jiou mengajarkan agama kepada murid mereka di sabuah. Dalam hal ini, kalau transmisi jaringan kiai di Jawa melalui pesantren, abuya di Aceh melalui dayah, dan kekhasan jaringan tradisi ulama di daerah lainnya, maka transmisi jaringan jiou (tidak semua) pada masa ini melalui sabuah.

Jiou mengajarkan agama di sabuah. Di sini terbentuk jaringan ulama antara jiou dan murid mereka. Di antara alumni sabuah, ada yang menjadi jiou melanjutkan jaringan ulama guru mereka. Beberapa jiou abad ke-20 M di pesisir selatan yang mengajarkan agama di sabuah, ada Imam Udeng Paputungan dan Imam Aju Abug di Desa Pinolosian, Imam Patorong Makalalag di Desa Onggunoi, dan Imam Duli Mamonto di Desa Mataindo.
Peran jiou sebagai pemimpin agama di desa, secara tidak langsung juga memunculkan hubungan ulama dalam jaringan. Para jiou pada dasarnya adalah ulama-ulama lokal yang terhubung melalui kesepahaman pengamalan tradisi Islam. Satu karakteristik jiou adalah mereka harus menguasai dan menjalankan tradisi Islam lokal Bolaang Mongondow. Hal ini tidak lepas dari peran mereka sebagai orang yang memimpin jalannya tradisi Islam setempat.
Beberapa jiou yang menjadi imam desa di pesisir selatan pada abad ke-20 M, selain para imam pemilik sabuah yang sudah saya sebutkan, ada Imam Husin Utiah (Imam Tua) di Desa Mataindo, Imam Atan Olii di Desa Pinolosian, Imam Saman Paputungan di Desa Motandoi, dan lainnya.
Para imam memiliki jaringan ulama lokal mereka masing-masing. Ada yang jaringan ulamanya saling terhubung antara imam dan jiou lain di desa setempat. Ada yang jaringan ulamanya terhubung hingga ke luar desa bahkan luar Bolaang Mongondow. Banyak hal yang membentuk jaringan ulama jiou itu, di antaranya adalah hubungan guru-murid dan kesepahaman pengamalan tradisi Islam.
