Secara berulang-ulang, aku lempar sekepal batu ke satu arah. Lemparan tanpa sasaran—sekadar membuang resah.
Tak berapa lama kemudian, dari arah belakang, sekonyong-konyong kurasakan angin menderaku kencang. Lalu ia bergulung-gulung di hadapanku. Menjadikanku, mau tak mau, menghentikan polahku.

Setelah agak tenang, angin beruluk salam, lalu menanyakan kabarku. Tak kujawab, angin berucap, “Sampean tahu, tadi jauh di belakang sana, seseorang berjalan di bawah terik matahari. Kendati tidak terperosok lubang di bahu jalan, tiba-tiba ia ambruk. Kemudian tampak kepayahan, ia coba berdiri. Dan, baru beberapa langkah ia berjalan lagi, sekonyong-konyong ia ambruk lagi. Kejadian itu menimpanya beberapa kali, membuat saya jatuh iba —secepatnya saya mendekatinya. Sembari mengucap salam, saya elus wajahnya. Setelah ia menjawab, saya bertanya: “Kenapa?
