Kang Jam di Antara Dua Alfiyah

“Astaghfirullahaladzim! Ini baru datang langsung tidur. Sudah salat ashar apa belum, Dul?” tanya Kang Jam risih.
Tidak ada jawaban. Remaja itu justru mengeluarkan dengkuran lembut dengan mulut yang terbuka, menampakkan sisa-sisa daun bayam yang masih bersemayam di sela gigi-giginya. Kang Jam akhirnya keluar kamar setelah Abdul tidak mau bangun. Setelah itu, Ajib yang juga penghuni kamar itu gantian membangunkan Abdul. “Dul! Bangun salat asar dulu!” Abdul melek lantas mengucek-ucek mata.

“Aku di mana?” Abdul mengigau. Santri yang satu ini memang setiap malam selalu begadang sehingga siangnya sering digunakan untuk tidur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kamu sudah berada di neraka karena sering meninggalkan salat!” teriak Ajib di telinga Abdul. Santri santuy itu langsung jenggirat bangun.

“Kamu siapa? Malaikat Malik?” ceracau Abdul.

“Bukan! Kami Munkar dan Nakir dan staf ahli urusan tata alam kubur!” balas Ajib kesal. Sulton dan Jupri sudah duduk mengelilingi Abdul.

“Munkar- Nakir kok di neraka?”

“Iya. Tadi kamu kami interogasi di alam barzah tetep nggak mau bangun akhirnya kami kirim langsung ke neraka karena dianggap mempersulit prosedur alam kubur. Tugas kami masih banyak woi! Bangun!!!” teriakan Ajib makin kencang. Karena terus diteror teman-temannya akhirnya Abdul bangun tapi matanya masih merem.
Kang Jam masuk, di tangannya ada kitab Alfiyah kecil. Kedatangan santri senior itu ke kamar tak lain untuk menasihati adik-adik tingkatnya ini . “Kenapa teriak-teriak? Kalian kira ini gunung? Nggak punya adab, ngganggu istirahat kiai tahu!” semprot Kang Jam penuh gelora.

“Tuh Izrail datang. Kamu mau mati dua kali Dul? Mau merasakan sakitnya sakaratul maut lagi? makanya buruan bangun kalau nggak mau mati lagi!” Sulton ikut berkiprah.

Abdul menguap lebar lantas bangun untuk berdiri sambil mengucek mata. Ia lihat teman-teman sekelilingnya dan kemudian menguap lagi dan lebar lagi.

“Kalau menguap tutup corongnya! Coronanya bertebaran dari mulutmu Dul!” Kang Jam memprotes keras. Abdul bergegas melangkah keluar menuju kamar mandi. Sejenak suasana kamar mereka langsung sepi.

“Alhamdulillah, penyakitnya keluar. Bisa lalaran Alfiyah di sini sekarang,” gumam Kang Jam sambil mengambil posisi duduk sila di atas sajadahnya. “Minggu depan kita pulkam teman-teman,” Kang Jam memberi tahu teman-temannya.

Tinggalkan Balasan