Tangannya tak berhenti memutar tasbih. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara. Mukanya bersih karena senantiasa menjaga wudhu. Kepalanya menunduk, tawadhu. Di pelukan dadanya ada sebuah kitab besar yang baru dikajinya di masjid pondok bersama Kiai Hasan.
Langkahnya cepat menuju gothakan. Namun dia segera berhenti ketika melihat ada Gus Dowi di kejauhan. Gus Dowi masih balita, tapi itu tidak menyurutkan ketawadhuan Kang Jam padanya. Nama sebenarnya adalah Zamzam Zamran Noor, panggilannya Kang Jam. Dia merupakan santri senior yang sangat rajin mengaji. Hafalannya banyak, referensi kitabnya sulit ditandingi santri lain. Ibadahnya pun sangat khusyuk. Kang Jam inilah tipe santri ideal idola para santri-putri, mungkin.

“Nggak ikut ngaji Dul?” tanyanya pada Abdul, santri asal Jawa Tengah yang sedang duduk-duduk bersanding kopi di teras asrama bersama beberapa temannya sesama geng santri santuy.
“Ngajinya titip sampean, Kang,” jawab Abdul sambil menyeringai.
“Bisa saja Dul-Dul. Apa perlu sekalian salatnya titip? Aku salati kamu di masjid mau? Atau kamu milih yang paket lengkap mulai dari menyolatkan dan memandikan sampai tahlilan dan khataman, mau?” tantang Kang Jam dengan muka menyebalkan.
Ucapannya itu merupakan perpaduan antara gurauan dan keseriusan. Mereka berdua berada di kamar yang sama di asrama B. Keakraban yang terpupuk setiap hari membuat candaan-candaan sarkas terasa biasa saja bagi mereka. Sindiran keras mungkin akan terasa menyakitkan, tapi kemudian akan menghilang seiring waktu yang berjalan. Hidup di pondok membuat para santri tumbuh menjadi muslim yang tidak kagetan karena candaan-candaan. Olok-olok sudah menjadi bumbu di setiap rutinitas sehari-hari mereka.
“Iya, nanti kalau aku sudah mati, Kang, kamu sekarang sabar dulu. Rokok dan kopi masih terasa nikmat di mulutku,” tukas Abdul sambil nyeruput kopi lagi. Setelah menandaskan kopinya, remaja itu kemudian melangkah pergi.
“Hei Dul! Dibilangi santri senior malah ngacir! Santri kok nggak mau ngaji! Di pondok rebahan terus nanti pulang mau jadi apa?” Kang Jam menggerutu sendiri sambil menyingsingkan sarung untuk kembali mempercepat langkah. Orang yang diceramahi itu telah pergi, mungkin tak lagi mendengar kata-kata Kang Jam tadi.
Setelah menaruh kitab di laci, Kang jam bergegas menuju dapur untuk ngeliwet. Semua dikerjakan cepat-cepat. Dia tidak ingin dicap sebagai santri abdul butun, yakni santri yang hanya mengurusi makan saja. Selepas ngeliwet, Kang Jam kembali lagi ke kamar. Ia membuka kitab Alfiyah lantas mengulang hafalannya. Di sebelah Kang Jam, beberapa santri sedang bercengkrama. Sesekali tawa mereka berderai memenuhi ruang kamar. Merasa terganggu, akhirnya Kang Jam bersuara, “Santri bukannya ngaji malah guyon terus, kapan pinternya? Nggak kasihan orang tua yang ngirimi uang tiap bulan?”
“Nanti kalau sudah ke-futuh sama Allah tinggal melihat kitab isinya langsung hafal, Kang. Sekarang menunggu rahmatnya Allah turun sambil duduk-duduk dulu,” jawab seseorang di antara mereka.
“Cita-citamu tinggi tapi perjuanganmu tidak ada. Gila itu macam-macam jenisnya, salah satunya adalah mau meraih cita-cita tanpa usaha,” jawab Kang Jam sembari berkutat dengan kitabnya lagi.
Tiba-tiba Abdul datang lengkap dengan pakaian yang berbau rokoknya. Bau keringatnya menguar di setiap jengkal ruang kamar. Karena kelelahan dia langsung tidur di sebelah Kang Jam.
