Kiai As’ad tercatat sebagai salah satu pelaku sejarah berdirinya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Tidak hanya itu, Kiai As’ad juga berkontribusi dalam perebutan kemerdekaan Indonesia dari penjajah bersama pasukan Pelopor yang dikomandoninya.
Perjuangannya tersebut mendapat pengakuan dari negara dengan dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 90/TK/Tahun 2019 tertanggal 3 November 2019.

Selain itu, buku setebal 136 halaman ini juga memuat karamah-karamah Kiai As’ad yang dituturkan oleh Kiai Yazid. kiai Yazid menjadi saksi karamah Kiai As’ad selama menjadi santrinya di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Menurut kesaksiannya, salah satu karamah Kiai As’ad pernah dirawuhi Nabi Khidir Alaihis Salam. Waktu itu, jam 01.00 WIB dini hari. Kiai Yazid duduk di teras depan kediaman Kiai As’ad. Duduk sambil menunggu diberi tugas oleh Kiai As’ad sudah menjadi kebiasaan Kiai Yazid sejak menimba ilmu di Pesantren Sukorejo. Kiai Yazid selalu ingin disapa dan disuruh oleh Kiai As’ad.
Dini hari itu, Kiai Yazid memergoki Kiai As’ad sedang bercakap-cakap dengan seseorang di dekat pintu masuk kediamannya. Namun, Kiai Yazid tak bisa melihat siapa orang yang sedang diajak bicara oleh Kiai As’ad. Ketika sang tamu misterius itu pamit, Kiai As’ad memanggil Kiai Yazid.
“Kamu tahu siapa yang bertamu dan bercakap-cakap sama saya barusan?” tanya Kiai As’ad.
“Maaf, saya tidak tahu, Kiai,” respons Kiai Yazid.
