Karangan Muridku

Hari itu hari Minggu. Ayah membawaku pergi ke kebun binatang. Ibu tidak ikut. Dia pergi ke rumah temannya. Di sana, aku gembira sekali. Ada banyak hewan. Ada gajah, harimau, buaya, jerapah, kuda nil, dan hewan-hewan lainnya. Aku dan ayah berfoto di sana. Dia tersenyum. Aku tersenyum juga.

Setelah berfoto-foto dengan hewan-hewan itu, aku dan Ayah membeli es krim dan main ayunan. Es krimku jatuh. Aku menangis, tapi Ayah memberikan es krimnya padaku. Aku tidak mau. Aku mau beli yang baru. Ayah menolak sambil mencubit pipiku. Aku marah dan menangis lebih keras lagi sampai akhirnya dia menggendongku dan membawaku ke abang tukang es krim. Aku memilih es krim vanila. Kemudian, kami pergi ke taman dan bermain dengan gembira.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sana, aku melihat Ibu menggendong anak kecil bersama seorang lelaki. Aku memberitahu Ayah. Dia tidak tersenyum lagi. Aku bertanya pada Ayah siapa anak kecil yang digendong Ibu. Ayah tak menjawab. Aku memanggilnya. Ibu menoleh dan berlalu. Aku bertanya lagi pada Ayah mengapa Ibu tidak mendatangiku. Ayah tidak menjawab. Dia menggendongku dan membawaku pulang.

Malam harinya, Ibu dan Ayah bertengkar. Aku sembunyi di belakang pintu. Ayah memarahi Ibu, memukulnya dan melemparinya dengan vas bunga. Aku takut. Aku ingin bilang pada Ayah agar berhenti memukul Ibu. Kemudian Ibu pergi dan tak pulang lagi. Aku selalu menangis setiap hari. Namun, Ayah bilang kalau dia tidak suka melihatku menangis. Dia lebih suka melihatku tersenyum. Aku tersenyum meski aku kadang menangis tanpa sepengetahuannya. Sekarang aku tinggal bersama Ayah dan dia melarangku menangis jika rindu Ibu. Setelah itu, ayah menikah dan aku memiliki Ibu baru. Tapi, aku lebih suka ibuku.

Membacanya, aku tersentak dan menangis di ruang guru.

***

Beberapa hari setelah bertemu dengannya, dia meneleponku. Aku menjawabnya dan berbicara beberapa jenak.

“Cukup! Aku bukan istrimu lagi!” balasku setengah berteriak. Sambungan telepon kuputuskan sepihak.

Dia keras kepala dan memaksa meneleponku. Aku memblokir nomornya, tapi dia menelepon menggunakan nomor lain. Suamiku dibuat tak nyaman oleh dering telepon yang tak kuangkat. Berkali-kali. Akhirnya suamiku yang menjawabnya.

“Radian, hentikan. Dia bukan istrimu. Jika kau memaksa, aku tak segan-segan membunuhmu!!” bentaknya dan membanting telepon itu.

Suamiku marah-marah. Aku diam. Tak menjawab. Lalu, dia pergi ke luar. Deru mobilnya membawa serta pertanyaan yang dilontarkannya barusan, apakah kau masih suka padanya? Dadaku sesak. Aku teringat putriku. Dia sembunyi di belakang pintu. Aku memeluknya dengan punggung terguncang dan menyumpahi Radian, mantan suamiku yang meninggalkanku dan memilih perempuan laknat itu. Dia menelepon dan memintaku untuk kembali padanya. Bedebah!!

14 April 2023.

One Reply to “Karangan Muridku”

Tinggalkan Balasan