Waktu itu tahun 2000-an. Untuk mengakses bacaan bil khusus sastra, sampean tahu, tidaklah semudah sekarang. Sampean kudu sabar menunggu seminggu sekali terbitnya koran Minggu yang menyediakan rubrik sastra di antara gemrungsung halaman-halaman berita dan iklan. Atau, apabila sampean ingin membaca majalah khusus sastra, maka sampean kudu sabar menunggu sebulan sekali. Itu pun dengan catatan apabila sampean punya uang untuk membelinya.
Saat itu, agaknya saya mulai jatuh hati pada sastra, yang mana dalam benak saya kerap muncul dorongan untuk membacanya, yakni dengan cara: apabila sedang ada duit maka saya membeli beberapa koran Minggu baik terbitan lokal, daerah, maupun nasional.

Namun, karena boleh jadi kantung saya lebih sering kosong, maka inilah yang lebih sering saya lakukan: pada Minggu pagi saya silaturahmi ke rumah “senior”, seorang penyair yang kondisi keuangannya lebih mapan, kemudian menyuruh saya membeli koran-koran tersebut di kota kecamatan—beberapa jarak dari rumahnya—, kemudian kami membaca bersama secara bergantian di beranda rumahnya, barang tentu sembari ngopi dan sesekali larut dalam obrolan.
