Demikianlah, hingga suatu saat saya punya uang cukup untuk berlangganan dua majalah sastra kesukaan, yakni Horison dan Annida. Maka, saya pun berlangganan keduanya untuk setahun ke depan. Kemudian, setelah beberapa kali majalah tersebut terkirim lancar sampai ke rumah, suatu hari pada tanggal-tanggal di mana kiriman itu biasanya telah sampai, kegelisahan mulai menimpuk benak seiring saya mempersoalkan kenapa kiriman tersebut tidak kunjung datang, sementara keinginan membacanya pun kian menambah kegelisahan saya—dan ini berlangsung cukup lama hingga beberapa minggu ke depan.
Suatu waktu, karena ada keperluan, saya dolan ke rumah seorang lilik yang juga seorang takmir masjid di kampung kami. Sesampai di dalam rumahnya—yang cuma beberapa jarak dari rumah saya—, tanpa sengaja saya melihat beberapa majalah tergeletak di meja ruang tengahnya yang mana saya langsung menghampirinya, dan rupanya itu adalah edisi terbaru majalah-majalah kesukaan saya tersebut. Kemudian, seusai saya bertanya, apakah ia berlangganan majalah-majalah itu, ia menggeleng, lalu memberitahu saya bahwa majalah-majalah itu di kirim ke masjid—mungkin untuk bacaan jemaah masjid.

Kemudian, saya memberitahunya bahwa saya berlangganan majalah-majalah tersebut, cuma persoalannya, entah karena apa, tak kunjung sampai ke rumah saya.
