“Siapa yang subuh ini tidak berjamaah?!” Mbah Kholil bertanya kepada para santri, masih dengan raut kemarahan.
Seluruh santri menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari siapa yang pagi itu tidak ikut salat jamaah subuh. Setelah dicari-cari akhirnya diketahui bahwa yang tidak ikut jamaah adalah Kiai Bahar. Kemudian Mbah Kholil memerintahkan santri untuk mencari Bahar dan membawa ke hadapannya.

Setelah Kiai Bahar dihadapkan, terlihat Mbah Kholil begitu marah. Kiai Bahar begitu gemetar, takut bukan kepalang. Kemudian Mbah Kholil berkata, “Bahar, karena kamu tidak hadir salat subuh berjamaah, maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok ini.”
Petok adalah sejenis arit kecil yang biasa digunakan unruk menyabit rumput. Sangat tidak mungkin untuk menebang rumpun bambu dengan alat sekecil ini. Tetapi, Kiai Bahar mematuhi perintah Syaikhona Kholil. Meski terasa sangat sulit, akhirnya Kiai Bahar pun berhasil menebang dua rumpun bambu. Sebuah kejadian yang memang di luar logika. Karena dengan alat yang digunakan sangat tidak layak untuk mengerjakannya.

Semoga mendapat barokah sang Waliyullah
Aamiin ya Robb!