Kasih dan Air Mata Ibu

“Tidak apa-apa Kau pergi jauh. Asalkan jangan sampai membelot dari tujuan utama, mengabdi demi rida Allah swt.” Demikian ibu akhirnya memberikan restu.

Meski demikian, saya melihat ada rasa gundah di wajah ibu. Entah apa yang dirasakan ibu sebenarnya. Bagi saya, restu ibu adalah segalanya. Jika ibu tidak berkenan, tentu saya tidak akan melangkahi titah ibu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keberangkatan pun sudah tiba. Sebenarnya ada beberapa dari teman sealmamater yang turut serta dalam missi “jihad” ini. Mereka semua teman seangkatan saya. Jadi, saya punya teman ngobrol dan berdiskusi sepanjang perjalanan. Bahkan hingga sampai di tempat pengabdian nanti.

“Ibu, yang berangkat bukan hanya saya saja. Ada beberapa teman yang juga ikut pergi menyeberangi lautan luas itu.” Sebelum berangkat saya bilang ke ibu, agar ibu tidak kepikiran.

“Ya, sudah tidak apa-apa. Malah lebih baik kalau ada teman yang sama-sama berangkat,” jawab ibu saat itu. Terlihat ibu begitu ikhlas untuk melepas kepergiannku.

Namun pada saat saya pamit dan mencium tangannya, tiba-tiba tangis ibu meledak. Saya tidak pernah melihat ibu menangis seperti itu. Selama ini, ibu adalah sosok yang begitu tegar dan tabah. Tapi mengapa saat keberangkatan ke pulau seberang itu, tiba-tiba saja ibu menangis tersedu. Terbersit dalam pikitan, jangan-jangan ibu tidak rela atas kepergian saya.

Melihat ibu menangis, tak terbendung air mataku pun mengalir. Teringat bagaimana tindakanku selama ini. Meski saya tidak pernah menyakiti ibu secara sengaja, tetapi sampai detik ini saya tidak bisa membalas pengorbanan ibu. Teringat Sabda Nabi saw, “Kerelaan Allah swt tergantung pada kerelaan kedua orang tua, dan kemarahan Allah swt juga tergantung kepada kemarahan kedua orang tua.” Tersebab itulah, kemudian saya merasakan kesedihan yang luar biasa.

“Berangkatlah, Nak. Semoga Allah swt selalu melindungimu dalam perjalananmu.” Kalimat ini yang kemudian membuat pikiranku yakin. Bahwa tangis ibu adalah kesedihan cinta karena harus berpisah dengan anaknya. Selama ini, aku belum pernah bepergian terlalu jauh. Sehingga ibu mungkin merasa ragu dengan kepergianku yang jauh ini. Tetapi, rupanya tidak demikian. Ibu tetap memberikan restu meskipun aku harus pergi jauh.

One Reply to “Kasih dan Air Mata Ibu”

Tinggalkan Balasan