Kasih dan Air Mata Ibu

Aku pun berangkat diiringi derai air mata cinta ibu. Aku dan beberapa teman yang setujuan denganku pun sudah siap menempuh jarak yang entah. Dalam perjalanan, saya masih sempat berpikir tentang keadaan ibuku. Maklum, saya termasuk anak yang disayang dalam keluarga. Bukan berarti ibu tidak sayang kepada kakak-kakak dan adikku. Akan tetapi, perasaan cinta ibu kepadaku terasa lebih dari yang aku rasa selama ini. Jadi, ibu adalah “madrasahku” yang akan selalu kukenang sepanjang masa.

Kepergianku ke pulau seberang, Kalimantan Selatan, tidak mengalami hambatan yang berarti. Kami sampai di tujuan dengan tanpa kurang suatu apa. Dan di tempat itu, pesantren baru, kami semua berjihad untuk kemaslahatan umat. Setiap saat bergelut dengan santri, kajian kitab kuning, rangkaian ibadah, dan segala hal terkait dengan kepesantrenan. Secepatnya aku mengabarkan kondisiku ke orang rumah, terutama ibu. Dan, alhamdulillah, ibu juga merasa bahagia sekaligus bangga ketika saya kerasan di tempat baru itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itulah ibu, yang kata D Zawawi Imron, “Berselendang bianglala.” Merupakan tumpuan kasih yang tak bertepi. Ibu yang membawaku pada titian kehidupan yang sebenarnya. Ibu adalah buah rindu yang selalu menguarkan beribu purnama.

Ibuku sudah pergi untuk selama-lamanya. Dalam usia yang cukup senja, ibu pergi menghadap Tuhannya. Aku berada di sisi ibu, saat Beliau terakhir kali melihat dunia. Ibu meninggalkan duka, tetapi membawa senyum bahagia karena akan segera berjumpa dengan pujaan hati, Allah swt. Dan itu artinya, aku tidak akan lagi dapat melihat wajah ibu yang teduh. Sabar dan tabah adalah bagian dari keseharian yang dapat saya lihat. Gurat ketabahannya begitu membekas di wajah ibu yang mendamaikan.

Hari itu (pertengahan 2016), hampir senja. Saya mengantarkan ibu ke pemakaman. Alam seakan berduka, mendung menggelantung di ufuk. Tanpa titik hujan, namun air mataku membasahi gundukan tanah di mana ibu bersemayam untuk selamanya. “Selamat jalan, Ibu, aku masih di sini, di dunia ini, yang setia dengan munajat doa. Robbighfir li waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro, (Tuhan, ampunilah aku dan kedua orang tuaku yang telah mendidikku sejak aku masih kecil).”

Madura, 22 Desember 2020.

Ilustrasi: Eva Maulidiyah.

One Reply to “Kasih dan Air Mata Ibu”

Tinggalkan Balasan