Setiap hari ruang batok kepalamu terisi dengan dengang-dengung permintaan anak kita. Kau makin hari makin giat berusaha menuruti permintaan pertama anak kita istriku. “Apa aku harus bilang pada Pakde-Bude?” tanyamu pada dirimu sendiri saat sepulang mengantar anak tercinta kita. Sepertinya itu jalan yang baik istriku, lagi pula jalan mana lagi yang mau kau usahakan untuk anak tercinta kita selain kau harus merembukkan dengan Pakde-Budemu.
Dalam ragu yang menyerangmu, akhirnya kau merembukkan pinta anak kita pada ibu juga bapakmu. Ada sedikit perasaan masygul saat kau mulai berbicara pada mereka, kau harus tetap bilang itu istriku, ini demi anak kita. Lepas perbincangan itu ibumu sangat setuju dengan permintaan cucu kesayangannya, tapi tidak dengan bapakmu, ia menolaknya— dengan alasan acara ulang tahun ini tak begitu penting untuk diperingati.

“Sekolahkan saja dengan benar, buat cucuku itu pintar!” sentak bapakmu saat itu juga. Kau sedih mendengar itu. Apakah kau takut anak kita tidak sama dengan anak-anak yang lain, istriku? Kau takut anak kita tidak senang seperti anak-anak lain ketika menggelar acara ulang tahun? Jangan begitu istriku, bukankah kau yang selalu memintaku untuk berusaha terlebih dahulu.
“Yang penting kita usaha dulu, Mas, soal hasil kita serahkan pada Sang Pemilik Langit,” ucapmu dulu ketika aku tak kunjung menemukan pekerjaan.
“Acara ulang tahun ini harus tetap dilaksanakan, kita bersama-sama doakan Fatimah agar tumbuh menjadi manusia yang berguna dan taat pada orang tua serta Tuhan kita,” bela Budemu dengan kokoh. Mendengar kegigihan ibumu, aku melihat kau menarik bibir ujung cantikmu ke samping. Apa artinya itu istriku, apakah kau bahagia?
“Aku tak punya cukup biaya Pakde-Bude,” lirihmu pada kedua orang tuamu.
“Jangan pikirkan tentang uang, Umayah!” tegur Ibumu seketika. “Pamanmu pasti akan menyumbang sekantung beras dan sekilo telur untuk acara ulang tahun anakmu,” ucap ibumu setelah kau ungkap ketidakmampuanmu untuk mengadakan acara ulang tahun untuk anak kita.
Seketika rasa tidak enak hati menghampiriku saat mendengar ucapan ibumu, istriku. Sejak pinta anak kita perihal ulang tahun itu, kau selalu tampak murung dan lelah. Kau pontang-panting menjual gorengan ke warung-warung dekat sekolah anak kita demi mengumpulkan uang untuk mengabulkan permintaan anak kita. Maafkan aku istriku, seharusnya aku yang bertanggung jawab untuk biaya acara ulang tahun anak kita. Namun apalah daya, aku pun tak mampu melakukan itu istriku.
“Sudah jangan pikirkan itu. Tak baik menolak pemberian orang, anggap saja itu rezeki Tuhan karena kau telah merawat Fatimah sampai sebesar ini dengan penuh kasih sayang,” ungkap ibumu seakan bisa menebak rasa sungkan dalam dirimu waktu itu.
Terus terang istriku, aku tak bisa menampik kebahagiaan dalam diriku, meski sedikit ada perasaan malu yang menyergapku. Aku tak bisa menyembunyikan buncah kebahagiaan yang juga tertebar dalam dirimu. Haru dan bahagia yang amat dalam seakan membawaku terbang istriku. Bukankah melihat keluarga kecil kita bahagia adalah impian kita sejak lama, istriku?
Dan aku tak ragu lagi mengakui bahwa aku teramat bahagia memilihmu sebagai istri tercintaku, dan aku juga tak pernah salah memilihmu sebagai tempat peraduan paling nyaman untuk anak kita. Terima kasih istriku, kau memang layak mendapat limpahan kasihku.
***
